GENERAL COUNCIL F.I.C. - Prins Bisschopsingel 22, 6211 JX Maastricht, The Netherlands  Phone: *31 (0) 43 3508373
Saturday, October 24 2020  - 1 User Online  
HOMEGUESTBOOKCONTACT USFORUM 



18.09.2020 14:37:42 95x read.
INSPIRATION
RENUNGAN PANGGILAN HIDUP.

RENUNGAN PANGGILAN HIDUP.

(Theo Riyanto, FIC)

 

Panggilan hidup setiap manusia berbeda-beda. Saat penyadaran akan penggilan hidup juga berbeda-beda, baik mengenai peristiwa, tempat, cara dan bagaimana Tuhan menunjukkan panggilan hidup itu. Ada yang dipanggil melalui pengalaman hidup dramatik yang dialami, ada yang karena ketertarikan akan seseorang atau suatu pelayanan tertentu, ada yang memang sejak kecil sudah mengalami nuansa religius yang kental, ada yang biasa-biasa saja pengalamannya. Tuhan menunjukkan panggilan hidup dengan berbagai macam cara, peristiwa, sesuai dengan keadaan masing-masing orang dan apa yang dikehendaki Tuhan. Tuhan memanggil kita dalam peristiwa sehari-hari yang sangat biasa, namun menjadi tidak biasa karena kita pandang sebagai orang beriman. Semua peristiwa dan pengalaman sehari-hari sebenarnya memang biasa, namun akan menjadi bernilai setelah kita merenungkannya dengan mata hati nurani dan mata hati Tuhan. Persoalannya adalah beranikah kita memandang peristiwa dan pengalaman sehari-hari dengan mata hati Tuhan, sebagaimana Tuhan sendiri memandang dan menilai pengalaman atau peristiwa itu. Sangat sedikit orang yang dipanggil Tuhan untuk menjadi  Bruder dengan peristiwa dramatis dan sangat jelas pada permulaanya. Seringkali justru mulai dari ssuatu yang samar, tidak jelas, peristiwa “kebetulan”, motivasi tidak murni, tetapi kemudian ditekuni untuk dilacak dan dirunut, memiliki nilai apa dan Tuhan mau apa dengan pengalaman dan peristiwa yang dialami dan dilihat.

 

Panggilan hidup apa pun seringkali terkait erat dengan cita-cita yang dimiliki seseorang. Siapa pun orangnya pasti memiliki cita-cita hidup. Ada yang sudah sedemikian kongkret pada masa kecil, ada yang masih samar-samar, ada yang masih bingung dengan berbagai cita-cita. Perenungan mengenai cita-cita secara serius serta terbimbing akan menolong seseorang untuk memperjelas dan semakin mengkonkretkan apa yang sebenarnya sungguh-sungguh menjadi pilihan hidupnya. Ada yang berkeinginan untuk sukses dalam berkarier dan berprofesi, ada yang ingin kaya dan sejahtera dalam hidup berkeluarga, ada yang ingin keduanya sekaligus. Namun, tidak sedikit juga yang ingin sukses dalam hidup sosial, dalam pergaulan, dalam kegiatan sosial, serta tidak sedikit yang secara religius ingin mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan dan sesama. Apa pun panggilan yang dihidupi adalah merupakan perwujudan cita-cita. Kalau tidak menjadi cita-cita hidupnya, maka tidak ada motivasi dan energi untuk memelihara dan menghidupinya. Panggilan apa pun adalah bertemunya cita-cita kita, kesempatan, anugerah dan kehendak Tuhan. Nah, bagaimana kita mempertemukan cita-cita kita dengan kehendak Tuhan?

 

Mempertanyakan hidup dan kehidupan, seringkali amat berguna untuk menemukan apakah panggilan hidup kita. Kita bertanya kepada Tuhan, apa yang Tuhan kehendaki terhadap diri kita, terhadap hidup kita? Apakah cita-cita saya memang merupakan kehendak Tuhan. Bagaimana saya menilai bahwa cita-cita saya sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak? Pengalaman saya adalah apakah pada umumnya saya bahagia dan berhasil dalam proses mewujudkan cita-cita itu?. Ini tidak berarti tanpa kesulitan dan kerja keras. Tetapi, kebahagiaan dan keberhasilan dalam mencapai cita-cita dan mengisinya merupakan salah satu indikasi bahwa itu merupakan kehendak Tuhan. Indikasi yang kedua adalah apakah orang lain yang dekat dengan saya sungguh bahagia dengan cita-cita saya itu? Kalau dialami sebagai sesuatu yang membahagiakan, baik dalam diri sendiri maupun orang lain, dan bermanfaat bagi yang lain, saya meyakini ada kesesuaian antara cita-cita saya dengan kehendak Tuhan. Kesesuaian tidak berarti bahwa semuanya jelas pada permulaan, namun pelan-pelan tapi pasti kita menemukan bahwa Tuhan memang menghendakinya.

 

Panggilan hidup juga berkaitan dengan kemampuan, kapasitas, kekuatan dan kelemahan, kebaikan dan keburukan seseorang. Untuk menentukan pilihan hidup tentu kita hendaknya menimbang-nimbang kepribadian kita. (termasuk keadaan keluarga kita) Apakah memang ada potensi terhadap pilihan hidup tertentu, entah itu berkeluarga, tidak berkeluarga, maupun menjadi Bruder? Tetapi tidak berarti bahwa mereka yang “kuat” begitu saja gampang meniti panggilan hidup, begitu juga ayng tampaknya “lemah” tidak berarti tidak berjalan mulus. Yang menentukan kuat atau lemah tidak hanya diri sendiri tetapi juga melibatkan orang lain dan Tuhan. Mungkin justru dengan kelemahan, ketidakberdayaan, Tuhan memberikan kekuatan dan daya sehingga kita mampu untuk menggeluti panggilan kita. Kita adalah orang biasa dan Tuhan juga pasti memanggil dengan cara yang biasa supaya kita memahaminya. Tuhan mencintai ktia apa adanya, seperti apa adanya kita, bukan seperti yang kita harapkan mesti menjadi diri saya. Tuhan memanggil kita karena kita manusia, karena kita biasa, karena kita mengimaninya.

 

Pengalaman saya justru tidak dramatis dan tragis, biasa sekali, bahkan mungkin malah sulit untuk dijadikan kenangan , karena bukan momentum yang memorial. Saya anak dari keluarga miskin, tidak pandai, banyak saudara, tidak tampan dan berfigur pendek dan kecil, tidak menonjol dalam pergaulan, tidak memiliki suasana religius yang kental, masa remaja saya lewati dengan kenakalan dan kebandelan, masa tertarik dan jatuh cinta remaja juga saya alami secara wajar, berkelahi atau berkonflik dengan teman, “berani “ kepada orang tua. Singkatnya, sejarah hidup saya bisa sekali, tak “terhitung”, bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Kalau Tuhan memanggil saya berarti itu karena Tuhan semata-mata, karena Tuhan mencintai saya, Tuhan menghendaki saya yang kecil dan lemah ini untuk ikut melanjutkan karya penyematanNya. Mengapa takut menjadi yang biasa, sebab Tuhan akan menggunakan yang biasa itu menjadi yang istimewa menurut ukuran-Nya? Anda biasa-biasa saja, atau mungkin malah cenderung negatif masa lalunya, tidak usah takut untuk memberi makna kehidupan bersama Tuhan, siapa tahu Tuhan memakai Anda untuk menjadi alatnya. Siapa mau? Ini aku Tuhan, berbicara dan panggilah aku, walaupun aku tidak pantas dan penuh dengan dosa.








^:^ : IP 9.9.5.1 : 2 ms   
BROTHERS FIC
 © 2020  http://brothers-fic.org//