GENERAL COUNCIL F.I.C. - Prins Bisschopsingel 22, 6211 JX Maastricht, The Netherlands  Phone: *31 (0) 43 3508373
Monday, February 26 2024  - 1 User Online  
HOMEGUESTBOOKCONTACT USFORUM 



15.08.2023 08:40:17 758x read.
INSPIRATION
ORANG-ORANG KECIL YANG BERHARGA (THEO RIYANTO FIC)

ORANG-ORANG KECIL YANG BERHARGA

Theo Riyanto FIC

 

Saya datang dari keluarga sederhana. Hanya dengan ketekunan dan kerja keras, keluarga dapat hidup “cukup”. Kami adalah orang-orang kecil, orang biasa. Pergaulan saya dengan teman-teman di sekolah dan desa, walaupun diterima di lingkungan apa pun, saya sering merasa lebih nyaman bersama dengan teman-teman yang “biasa” secara sosial ekonomi. Itulah maka saya setelah menjadi seorang bruder pun memiliki bekal untuk dapat hidup “biasa” dan menghargai orang-orang kecil. Baik mereka yang berjumpa dan bekerja sama maupun yang berada di luar unit kerja saya. Saya belajar dari mereka dan menghargai mereka sebagai orang-orang yang rela bekerja keras, suka membantu, solider dengan sesamanya, lebih mengutamakan kasih daripada harta, menerima kenyataan dengan penuh syukur dan menggantungkan apa pun kepada Yang Kuasa.

Sebenarnya pengalaman bergaul, bersahabat dan menghargai orang-orang kecil cukup banyak, namun saya akan membagikan pengalaman sebagian saja yang semoga sudah memberikan inspirasi bagi para pembaca.

 

PAK PARGIO “BAPAKKU”

8

 

Pengalaman ini terjadi ketika saya menjadi seorang kepala sekolah di salah satu sekolah favorit. Salah satu pembantu pelaksana sekolah bernama Pak Pargio. Pegawai ini sebenarnya sudah pensiun sebagai pegawai negeri. Ia tidak beristeri dan tidak memiliki anak. Kalau bekerja “semau”nya, tidak mau diatur,namun sangat rajin dan bekerja keras. Ia sangat bangga sebagai pensiunan pegawai negeri sehingga kartunya pun selalu dipasang di pecinya. Saya mencoba untuk mengerti dan bersahabat dengannya. Saya kadang-kadang mengajak bicara dan menyanjung apa pun yang ia kerjakan. Tidak pernah sakali pun saya mencela pekerjaannya,walau kadang-kadang perlu di cela. Karena apa? Karena penghargaan saya terhadapnya. Ia yang mestinya sudah pensiun tidak mau untuk tidak bekerja. Walau tidak mendapatkan honor yang jelas dari kami, ia tetap rajin bekerja.

Pada suatu saat tiba-tiba dengan cara yang bagi saya istimewa, ia memberikan bungkusan kepada saya dengan mengatakan, “ Mangga niki kagem Bruder!” (Silakan, ini untuk Bruder) Saya sendiri menerima dengan diliputi rasa terima kasih tetapi juga heran. Memberi apa Pak Pargio kepada saya. Selama ini saya belum sekalipun memberikan sesuatu kecuali hanya mengajak “ngobrol” dan memuji apa pun pekerjaannya. Ternyata di dalam bungkusan itu terdapat dua kaleng rokok dan dua buah korek api. Memang sebelumnya saya pernah merokok tetapi saat itu sebenarnya saya sudah tidak merokok lagi. Saya tetap menerima itu dengan tulus mengatakan “wah, maturnuwun, kula remen” (wah terimaa kasih,saya senang). Sejak itu setiap bulan setelah gajian, Pak pargio selalu memberi saya dua kaleng rokok seharga Rp. 60.000,- dan dua korek api yang kemungkinan seharga Rp. 5.000 – Rp. 10.000. hal ini sudah berjalan sekitar tiga tahun. Tidak pernah berhenti, bahkan kalau belum berjumpa saya, rokok dan korek itu disimpannya rapi tanpa bermaksud untuk menitipkan kepada orang lain.

Beberapa teman heran mengapa Pak Pargio hanya memberikan itu kepada saya. Saya sendiri juga tidak tahu alasannya. Namun yang jelas saya belajar banyak dan sangat menghargai Pak Pargio. Saya belajar untuk memiliki harga diri. Walau sebagai pembantu pelaksana ia bangga dengan pekerjaannya dan sebagai pegawai negeri. Saya belajar untuk lebih baik memberi daripada menerima. Saya belum pernah mengalami Pak Pargio meminta sesuatu kepada saya, dia hanya memberi saja dan tidak mengharap apa pun. Setelah memberikan rokok dan korek kepada saya saya belum tentu dalam satu bulan bertemu, kecuali saat memberi dan menerima itu. Saya sangat menghargai ketulusannya dalam memberi. Saya sangat menghargai kehadiran dan pekerjaannya. Ia memberikan keteladanan ketulusan dalam memberi, bekerja tanpa sangat memperhitungkan upah, bekerja dengan tekun, hidup dalam kesederhanaan. 

 

MBAH KROMO “NENEKKU”


 

Pengalaman ini ketika saya bertugas di Giriwoyo, Wonogiri. Saya tinggal bersama dua bruder yang lain. Mbah Kromo adalah tetangga dekat kami. Waktu itu memang saya hidup seperti orang desa pada umumnya. Setelah bertugas di sekolah dan selain menjadi dosen untuk para novis di Solo, saya senang bercocok tanam. Saya juga senang bergaul dan bertandang ke tetangga-tetangga. Sehingga pada saat ‘sripah”, pesta pernikahan atau “khitanan” saya pun seperti orang desa lainnya ikut menyumbang dan hadir. Lama kelamaan saya cukup dikenal oleh masyarkat sekitar. 

Mbah Kromo ini hampir dapat dipastikan seminggu sekali mengirimkan nasi “thiwul” dan sayur rebung pedas kepada kami. Mbah kromo memberi dengan penuh ketulusan dan “kebanggaan”, tanpa takut atau cemas kalau kami menolaknya. Dalam hati sebenarnya saya pada awalnya juga pernah menggerutu, “wong kaya ngene kok diaturke bruder” (barang seperti ini kok diberikan untuk bruder). Tentu saja di komunitas kami memiliki nasi yang enak dan sayur yang lezat. Tetapi Mbah Kromo selalu memberikan nasi thiwul dan sayur pedas itu kepada kami. Saya justru terharu karena dari kesederhanaan dan kekurangannya rela dan tulus memberikan sesuatu kepada kami, tanpa takut untuk ditolak atau disepelekan. Kami pun menerima dengan senang hati dan selalu menyampaikan bahwa kami senang mendapatkan kiriman itu. Yang pada mulanya saya tidak terlalu suka, lama kelamaan malah nasi thiwul dan sayur dari Mbah Kromo itu yang saya tunggu-tunggu. Balasannya bukan kami kemudian memberikan makanan atau barang tetapi sapaan dan kunjungan baik ketika Mbah Kromo sedang berkebun atau ketika sedang “leyeh-leyeh” di depan rumah. Hanya kadang-kadang kalau ibu saya di Muntilan mengirim tempe atau beras, sebagain saya bagi-bagikan kepada tetangga-tetanggan, tentu saja teruma Mbah Kromo. 

Saya belajar dari Mbah Kromo, rela dan tulus memberi tanpa takut ditolak. Saya belajar dari Mbah Kromo memberikan sesuatu dari kekurangan atau yang sebenarnya dibutuhkan. Saya belajar dari Mbah Kromo untuk tekun, bekerja keras dan sabar. Walau sudah tua beliau masih berkebun, yang kadang-kadang bibit jagung atau padinya di rusak oleh ayam atau mati tidak mendapatkan air. 

 

MENGHARGAI ORANG-ORANG KECIL

 

Saya benar-benar datang dari orang kecil dan bersyukur dapat belajar dan bersahabat dengan beberapa orang kecil. Saya dapat belajar banyak dari mereka. Secara langsung dan tidak langsung mereka “menghadirkan” Tuhan yang sederhana, yang kecil, yang tidak berdaya kepada saya. Dari pergaualan, persahabatan, penerimaan dengan mereka saya ingat Sabda Tuhan, “ Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu katakan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukan-Nya untuk Aku.” (Mat. 25:40) Suatu saat ketika menjadi pendamping anak-anak jalanan di Jakarta, saya sengaja membawa banyak makanan untuk anak-anak dampingan saya. Tetapi ada satu anak yang menyentak saya dengan mengatakan, “Kak, saya (tidak) lebih butuh kasih dan perhatian kakak, daripada makanan ini, karena kalau makanan kami dapat mencari sendiri dengan kerja kami sebagai tukar semir sepatu, penjaja koran dan “ngelap” mobil.” Saya benar-benar tersentak, saya pikir yang paling mereka butuhkan adalah makanan atau barang, ternyata kasih sayang dan perhatian. Dengan kata lain mereka membutuhkan penghargaan dari yang lain.

Menghargai orang-orang kecil ternyata memang tidak mesti dengan cara memberikan barang. Menerima kehadiran mereka, menyapa mereka dengan tulus dan ramah, menerima pemberian mereka dengan senang hati, memberikan perhatian, “berguru” kepada mereka, berbicara dan bersikap sopan terhadap mereka dan lain sebagainya bagi saya merupakan cara-cara yang tepat untuk menghargai mereka. Memang tentu saja ada yang membutuhkan barang atau uang, tetapi tidak harus itu yang diberikan.

Allah telah menyamakan diriNya dengan mereka yang lapar, sakit, telanjang, tuna wisma. Yang lapar bukan hanya karena tidak makan, melainkan juga lapar akan cinta kasih, akan perhatian, untuk menjadi orang yang berguna dan berarti bagi orang lain; telanjang bukan hanya dari pakaian saja, tetapi telanjang akan belaskasih, ayng biasanya diberikan kepada orang lain yang tidak dikenal; tuna wisma,bukan hanya tidak memiliki rumah tetapi karena tidak berteman. Marilah kita bersahabat dan menghargai orang-oran gkecil dengan membawa kasih dan perhatian. Hadir untuk menemani, meberikan kedamaian, melindungi dan mencintai mereka, memberikan kehangatan pergaulan. Biarkan mereka juga memberikan sesuatu kepada kita, dan tidak mengikat mereka dengan pemberian-pemberian kita, sehingga mereka hanya menjadi obyek pemberian kita dan membuat mereka “meminta” terus menerus. Suster Theresa dari Calcuta menghimbau, “ saya mengimbau Anda semua, miskin atau kaya, tua atau muda, untuk memberikan tanganmu guna melayani Kristus di dalam kaum miskin dan hatimu untuk mencintai Kristus dalam diri mereka. Mungkin mereka jauh atau dekat, miskin jasmani atau miskin rohani, lapar akan cinta kasih dan persahabatan, kurang mengenal kayanya cinta Allah kepada mereka, tuna wisma karena menghendaki rumah yang dibuat dari cintakasih yang berasal dari hati Anda.” Mari melaksanakan himbauan ini, sekarang juga! 

 

 

 

 

 








^:^ : IP 9.9.7.1 : 1 ms   
BROTHERS FIC
 © 2024  http://brothers-fic.org//