GENERAL COUNCIL F.I.C. - Prins Bisschopsingel 22, 6211 JX Maastricht, The Netherlands  Phone: *31 (0) 43 3508373
Friday, September 30 2022  - 1 User Online  
HOMEGUESTBOOKCONTACT USFORUM 



06.06.2022 15:38:33 967x read.
INSPIRATION
Menjadi Diri yang Autentik (Theo Riyanto, FIC)

  • Menjadi Diri yang Autentik

 

Keadaan yang sebenarnya berarti autentik, benar dan tidak salah, tidak mengenakan topeng-topeng. Kita hendaknya menunjukkan wajah kita sesungguhnya, apapun “harga” yang harus kita bayarkan. Menjadi autentik berarti menjadi diri sendiri yang sejati. Tentu saja hal ini bukan merupakan hal yang mudah, tidak banyak orang yang mampu untuk mencapai diri yang autentik. Untuk mencapai diri yang autentik kita harus sungguh-sungguh berjuang melepas topeng-topeng, menghilangkan hal-hal yang menekan dan menghalangi kita. Jika kita mampu mencapainya, hal ini merupakan hal yang sangat indah. Indah melihat diri sendiri yang polos dan autentik tanpa banyak hal yang semu dan hal-hal yang serba munafik. Mampu mencapai diri yang autentik merupakan anugerah, rahmat yang tak terkira sebagai seorang pribadi. Mampu memandang keindahan diri yang murni, tanpa polesan dan tanpa topeng bermacam ragam demi “diri sosial” kita, merupakan capaian yang sangat diimpikan oleh semua orang.

Saat kita berusaha menjadi autentik, hal yang hendaknya kita lakukan adalah kemauan dan kesediaan untuk mendengarkan suara di dalam diri, suara hati kita yang sehat. Pada awal-awal kita mengalami ketakutan, kecemasan dan seperti penolakan untuk mendengarkannya, namun kalau kita mampu bertahan dan mencoba untuk mendengarkan suara murni di dalam diri, pada akhirnya akan ditemukan saat kita dapat “menari” bersama dengan suara hati kita yang sehat. Betapa menyejukkan dan menentramkan suara hati yang sehat, dan kita dapat menikmati bersama. Hidup kita menjadi lebih nyaman karena kita mulai memercayai diri sendiri, mulai mendengarkan suara dari dalam diri.

Hal yang perlu diperhatikan pertama-tama adalah keberadaan diri kita sebagai seorang pribadi. Jangan membiarkan orang mengendalikan hidup kita. Orang lain itu banyak sekali, mulai dari teman, keluarga, sahabat, pacar, teman kerja dan lain sebagainya. Mereka siap dan ingin mengendalikan, mengubah, mengarahkan, memaksa, membimbing kita dan lain sebagainya. Namun ingatlah sebenarnya di dalam diri kita Tuhan telah semacam meletakkan “blueprint” bagi perjalanan hidup kita, tinggal kita yang hendaknya setiap kali membaca petunjuk itu dengan tenang dan sungguh-sungguh. Di dalam diri ada jawaban setiap kita membutuhkan petunjuk, maka yang diperlukan adalah kemauan untuk sungguh mendengarkan suara hati yang sehat, suara hati di dalam diri. Selalu dengarkanlah hati nurani, jangan dengarkan yang lain! Dalam hal ini orang lain bagaikan “pedagang” yang menawarkan banyak hal, dan hal ini sering menggoda, akhirnya membuat kita bingung sendiri, seakan menjadi “gila” karena tawaran-tawaran itu. Jangan dengarkan mereka, tutup mata, jadilah tenang dan dengarkan suara hati nurani! Itulah meditasi, menjadi tenang dan mampu mendengarkan suara lembut hati nurani diri sendiri, tidak dibisingkan oleh suara-suara yang lain, baik di dalam diri maupun di luar diri.

Hal kedua yang perlu kita lakukan untuk semakin menjadi autentik adalah tidak pernah mengenakan topeng diri. Jika sedang marah, marahlah! Jangan mencoba untuk tersenyum karena ini tidak jujur. Walau ada resiko dengan menunjukkan kemarahan, namun lakukan saja jangan ditopengi dengan senyuman palsu! Di dalam diri penuh dengan kemarahan, namun di bibir tersenyum, ini tidak jujur, hanya merupakan topeng yang rapuh yang pada saatnya membuat menderita diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya juga ketika kita ingin tersenyum, tetapi tidak bisa tersenyum. Kita sedang bahagia, tetapi karena situasi tertentu mau menunjukkan kemarahan, tentu saja kita tidak dapat melakukannya. Kita sedang bahagia bagaimana dapat sekaligus juga ada kemarahan. Jadi jujurlah saja dengan diri sendiri, kalau sedang bahagia tampilkan rasa bahagia itu dengan ketulusan, begitu juga dengan kemarahan, tampilkan saja bahwa kita sedang marah! Dengan demikian seluruh mekanisme di dalam diri tidak ada yang terganggu dan kita menjadi lebih relaks dan nyaman dalam hidup, karena semua berfungsi sebagaimana mestinya. Kalau ingin tertawa ya tertawa saja, kalau ingin marah ya marah saja, sebab tidak ada yang salah dengan tertawa atau marah!

Kalau semua “mesin” dan mekanisme di dalam diri kita semua berfungsi normal dan lancar tanpa ada gangguan “topeng” dan “tekanan”, maka semuanya akan terasa nyaman. Kalau kita berjalan, seakan langkah kita bagaikan tarian, nikmat dilakukan dan enak dilihat orang. Kalau kita bicara, enak didengar dan dinikmati orang lain, suara kita menjadi lebih merdu, lembut dan nyaman didengarkan. Pandangan mata kita menjadi lebih ramah dan lembut, penuh perhatian dan pengertian. Kita juga lalu mengalami bahwa orang lain sungguh memerhatikan kita sampai ke kedalaman diri. Kita merasakan sungguh-sungguh kehangatan kehadiran mereka. Ketika mereka menyentuh, kita rasakan sentuhan itu bagaikan mengalirkan daya dan kehangatan yang menjalar pada tubuh, kita merasakan ada perpindahan daya dari tubuhnya ke tubuh kita. Mengapa ini dapat terjadi? Karena mekanismenya dan mekanisme di dalam diri kita sama-sama berfungsi baik. Sama-sama sebagai pribadi yang autentik.

Janganlah bertopeng! Karena dengan bertopeng kita mengganggu mekanisme di dalam diri untuk dapat berfungsi dengan baik. Banyak blok di dalam diri kita, salah satunya adalah kemarahan. Ketika kita marah, kemarahan itu naik sampai di rahang dan berhenti di situ. Tangan kita juga kemudian menjadi “kaku”, tidak dapat menari dengan lincah, sebab kemarahan juga menjalar ke tangan kita. Ketika kita marah biasanya rahang menjadi tegang dan tangan menjadi kaku dan tidak dapat dikendalikan, semacam ada dorongan kuat untuk menampar atau meninju sesuatu. Energi atau daya kemarahan berada di dua tempat di dalam tubuh, yaitu di gigi dan di tangan kita. Kalau kita sedang marah, kita menggertakkan gigi, dan tangan kita bergerak-gerak atau mencengkeram. Jika orang banyak menekan kemarahan biasanya juga banyak mengalami gangguan pada giginya, sering mengalami sakit gigi. Orang yang marah biasanya juga banyak makan, karena pada saat itu gigi membutuhkan rangsangan untuk mengginggit atau mengunyah. Orang yang sedang marah juga semakin banyak merokok dan terlalu banyak bicara, karena ketegangan pada rahangnya, perlu dikendorkan dengan gerakan merokok dan berbicara. Begitu juga dengan tangan, tangan kita menjadi tegang dan hanya bisa menjadi lemas lagi ketika kita mampu untuk melepaskan energinya dengan mengepal, meninju dan menampar sesuatu.

Kalau kita menekan sesuatu di dalam diri, hal itu berpengaruh pada perasaan dan bagian dari tubuh. Jika kita tidak menangis, mata akan kehilangan  kilauannya, karena kilauan itu membutuhkan air mata. Dengan air mata, mata akan menjadi lebih jernih dan berkilau. Dalam hidup ini kita juga membutuhkan air mata tangisan untuk membuat tidak hanya mata berkilau dan jernih, namun juga jiwa menjadi lebih bercahaya dan bersih. Mereka yang tidak dapat menangis lepas juga tidak dapat tertawa lepas. Kita membutuhkan keduanya di dalam hidup ini, dengan menangis mata dan jiwa kita menjadi lebih berkilau, dengan tertawa lepas hati dan jiwa kita menjadi lebih nyaman dan ringan. 

Hal ketiga yang diperlukan untuk menjadi semakin autentik adalah menjaga agar kita hidup kini dan di sini. Janganlah terbebani oleh masa lalu dan masa yang akan datang! Hiduplah sekarang ini dan di sini! Pusatkan perhatian pada saat sekarang ini dan jujurlah pada keberadaan diri sekarang ini, dengan demikian kita akan semakin menjadi autentik. Kita tidak hidup pada masa lampau dan juga tidak hidup pada masa depan kita. Untuk menjadi autentik adalah hidup kini dan di sini, tidak hidup pada masa lampau dan tidak pula pada masa depan. 

Kebenaran berkaitan dengan autentisitas atau keaslian diri, bukan menyangkut logika. Kebenaran di sini adalah tentang kebenaran diri sendiri, diri yang sebenarnya tanpa ada hal-hal lain yang merasuki atau mencampurinya. Keberadaan diri yang sesungguhnya dengan segala resiko yang ada. Jika kita sedang sedih, kita memang sedang sedih pada saat itu. Itulah kebenaran pada saat itu, tidak ada yang disembunyikan. Jangan tersenyum palsu pada saat itu, karena saat itu kita sedang sedih. Senyuman pada saat kita bersedih adalah senyuman palsu, hal ini hanya memisahkan diri dari diri kita yang sebenarnya, kita yang sedang bersedih hati. Di satu pihak kita mengalami kesedihan dan ini merupakan bagian kita yang paling besar dan sebagian kecil dari diri , kita tersenyum. Terjadilah di dalam diri ada dua bagian yang saling bertentangan. Jika hal ini kita lakukan terus-menerus kita akan menjadi pribadi yang terpecah, pribadi yang munafik dan tidak ada kebenaran di dalam diri.

Ketika kita marah, kita mencoba untuk menekannya dan tidak menunjukkan kepada orang lain, karena kita takut hal itu memengaruhi reputasi dan pandangan orang lain terhadap diri kita. Selama ini orang mengatakan bahwa kita begitu penuh belas kasih dan tidak pernah marah. Mereka sangat menghargai hal ini dan hal ini juga sangat dibanggakan oleh ego kita. Jadi kalau kita marah, kita merasa hal itu merusak gambaran diri yang bagus di mata orang lain. Maka kita lalu menekan kemarahan agar tidak merusak gambaran diri kita. Di dalam diri kita seperti ada air yang mendidih karena kemarahan, namun di permukaan kita terlihat penuh belas kasih, sabar, lembut, dan manis. Betapa sering kita berada pada keterpecahan seperti ini, bahkan sepanjang hidup banyak orang yang berada pada keterpecahan ini. Mereka tidak hidup dalam kebenaran diri, namun dalam keterpecahan diri demi “diri sosial” mereka. Sehingga sering kali, walau kita duduk sendirian pun kita merasa ada orang lain yang memandang dan menilai diri kita. Kita tidak lagi menghidupi kebenaran diri juga pada saat-saat kita mandi, berada di kamar tidur sendirian, dan lain sebagainya. Seakan-akan di mana pun dan kapan pun diri kita menjadi terpecah oleh apa yang sebenarnya ada di dalam diri dan yang akan kita tunjukkan kepada orang lain demi penilaian baik mereka terhadap diri kita. Kita menjadi terbiasa untuk bersikap tidak dalam kebenaran. Jarak antara diri yang sebenarnya dan yang seharusnya ada demi orang lain makin melebar dan semakin menunjukkan keterpecahan diri. Bahkan seringkali banyak orang mengira bahwa dirinya yang sebenarnya adalah “diri orang lain” tersebut, bukan diri yang yang mereka kenali dari dalam dirinya sendiri.

Kalau jarak antara diri yang sebenarnya dan diri orang lain semakin lebar, kalau kebenaran diri tidak terjembatani lagi dengan diri permukaan, maka menjadikan kepribadian kita terpecah. Walau pada umumnya secara normal orang juga mengalami keterpecahan, namun jika keterpecahan itu pada derajat yang tinggi akan mengakibatkan penyakit diri yang disebut schizophrenia (penyakit suka mengasingkan diri).

Kebenaran di sini juga berarti bahwa kita tidak berpura-pura atau tidak bersikap munafik. Jadilah diri kita sebagaimana keberadaan kita. Kalau suatu saat kita sedang bersedih hati, bersedih hatilah saat itu. Kalau pada suatu saat kita merasa bahagia, bahagialah saat itu. Yang paling pokok adalah konsisten dalam kebenaran diri. Hidup itu bagaikan air yang mengalir di sungai, tidak ada yang tetap, pada suatu saat kita mengalami kebahagiaan dapat terjadi sesaat kemudian kita merasa bersedih hati. Yang tetap adalah perubahan. Kebenaran diri selalu mengalami perubahan. Kebenaran diri sangatlah kaya karena adanya perubahan terus-menerus. Namun kebenaran ini adalah kebenaran saat ini. Orang yang hidup dalam idealisme, tidak hidup dalam kebenaran diri, karena dia hidup di masa depan.

Kebenaran merupakan keautentikan diri, kebenaran adalah ketulusan. Kebenaran di sini bukanlah sesuatu yang merupakan hasil dari pikiran logis. Hal ini merupakan pernyataan psikologis yang menyangkut keberadaan diri seseorang yang sesuai dengan yang sebenarnya. Dirinya yang sejati. Seseorang yang hidup dalam kebenaran selalu hidup dari saat ke saat, ia meninggalkan masa lampau dan mengabaikan masa depan. Hidup pada saat ini dan di sini. Ia hidup penuh dengan penghargaan diri, kejujuran, keterbukaan, kebenaran dan mengarah pada jiwanya sendiri.








^:^ : IP 9.9.3.85 : 1 ms   
BROTHERS FIC
 © 2022  http://brothers-fic.org//