GENERAL COUNCIL F.I.C. - Prins Bisschopsingel 22, 6211 JX Maastricht, The Netherlands  Phone: *31 (0) 43 3508373
Saturday, May 18 2024  - 1 User Online  
HOMEGUESTBOOKCONTACT USFORUM 



03.11.2023 03:01:06 578x read.
INSPIRATION
Kepercayaan Inti Kepemimpinan “Orang akan mengikuti pemimpin yang dapat dipercaya”

Kepercayaan Inti Kepemimpinan (Theo Riyanto, dambil dari buku Pribadi Menarik dan Pemimpin yang Melayani)

“Orang akan mengikuti pemimpin yang dapat dipercaya”

Paling tidak ada dua hal mendasar yang berkaitan dengan kepercayaan. 1) Integritas. Ketika kita mempercayai seseorang, faktor pertama yang memengaruhi adalah apakah orang tersebut

memiliki integritas pribadi, memiliki kejujuran, prinsip kemanusiaan dan teguh memegang prinsip. Orang mempercayai seorang pemimpin yang memberikan kesan bahwa mereka tidak mengejar sasaran yang mengganggu atau merusak pengikut dan yang mem­ beritahukan sasaran yang ingin dicapai secara jujur. Para pengikut akan membiarkan seorang pemimpin yang seperti ini untuk menggapai sasaran­sasaran sejenisnya, yang penting sasaran­sasaran ini tidak bertentangan dengan yang telah pernah disampaikan. 2) Keyakinan (Confidence). Faktor kedua dari ‘Trust’ adalah keyakinan. Hal ini berkaitan dengan karisma kepemimpinan. Orang mengikuti pemimpin yang memiliki keyakinan bahwa sasaran yang dijanjikan dapat dicapai. Ia begitu yakin memberikan janji tentang sasaran dan bagaimana mencapainya. Jika seorang pemimpin nampak tidak berkompeten atau tidak cukup cakap dalam memimpin untuk meraih sasaran, maka dia akan kehilangan keyakinan dan kepercayaan dari orang lain. Ingatlah bahwa keyakinan akan membawa kepada kepercayaan!

Pemimpin yang karismatik mampu menciptakan kepercayaan, begitu juga keyakinan dan integritas menjadikan para pengikutnya mematuhi kepemimpinannya. Karisma di sini berarti kemampuan untuk menginspirasi orang lain dengan kekuatan sugestif yang dimiliki seseorang. Ketika orang akan mengikuti kita sebagai seorang pemimpin biasanya dia secara intuitif akan bertanya di dalam diri sendiri, apakah mereka mempercayai kita, apakah mereka yakin terhadap kemampuan kita untuk mencapai sasaran yang telah kita canangkan, dan apakah kita merupakan seseorang yang dapat dipercaya dan memiliki integritas atau tidak. Karisma adalah penggerak dan daya bagi kepercayaan. Sumber suatu karisma adalah kepercayaan; integritas terbentuk karena kejujuran, berpegang teguh pada prinsip dan kemanusiaan; sedangkan keyakinan memberikan harapan, kecocokan, pemenuhan, dan kompetensi.

Orang akan menyerahkan kebebasannya kepada orang lain hanya kalau dia yakin akan mendapatkan sesuatu dari penyerahan diri tersebut secara psikologis atau emosional. Jikalau orang tersebut tahu bahwa dia tidak akan memperoleh apapun dari keputusannya untuk mengikuti pemimpin tertentu, dia tidak akan mengurangi kebebasannya untuk mengikuti pemimpin tersebut. Dia tidak akan mengikuti pemimpin yang tidak akan memberikan manfaat apapun, yang tidak akan memberikan keuntungan apapun. Seorang pemimpin berarti harus memenangkan aspek psikologis atau emosional orang lain agar mereka bersedia mengikutinya. Kepemimpinan harus menyediakan suatu kebermanfaatan secara emosional bukan hanya secara material.

Jika orang ragu­ragu mana yang harus diprioritaskan antara integritas dan keyakinan? Kepercayaan bekerja melalui dua faktor mendasar yaitu integritas dan keyakinan. Dari dua faktor tersebut mana yang lebih penting? Jika seorang pemimpin yang ada tidak mampu memuaskan kedua­duanya, dan menjadikan orang harus memilih, faktor apa yang harus diutamakan? Apakah mereka akan mengikuti pemimpin yang jujur, pemimpin yang humanis yang tidak cukup cakap untuk menggapai sasaran? Atau akan memilih seorang pemimpin yang kuat, yang mampu menggapai tujuan walau diragukan tentang motivasi kepemimpinannya? Singkatnya apakah orang akan mengikuti pemimpin yang kuat dan cakap menggapai tujuan atau pemimpin yang memiliki integritas? Walaupun seringkali jawabannya tidak terlalu memuaskan, pada umumnya akan memilih pemimpin yang memiliki integritas pribadi.

Tetapi dalam situasi yang kritis, kepemimpinan yang kuat, yang cakap membawa kepada sasaran, pemimpin yang berdiri tegak menghadapi tantangan dan mampu mengatasinya lebih penting daripada integritas pribadi. Pendekatan kepribadian dan kepemimpinan situasional bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Yang pokok adalah bagaimana kita sebagai seorang pemimpin menerapkan setiap model kepemimpinan sesuai dengan situasi dan kebutuhan organisasi atau lembaga yang sedang kita pimpin. Pemimpin yang karismatik mampu menghubungkan gejala­ gejala yang ada dan memahaminya dengan benar dan tepat. Oleh karena itu karismanya tidak mandeg, tetapi justru berkembang mengikuti zaman. Dia mampu menawarkan sesuatu sesuai dengan zamannya. Dia mampu menghilangkan ketakutan­kekhawatiran para pengikutnya dan dengan penuh harapan menggapai sasaran walau mungkin menghadapi tantangan yang harus mereka atasi bersama.

Pada prinsipnya sebagai pemimpin kita hendaknya mampu meningkatkan kepercayaan, keyakinan para pengikut dengan kekuatan sugestif kita. Pemimpin besar akan mampu menarik banyak pengikut dengan karisma kepribadiannya, dengan pengaruh sugestifnya, dan dengan keterampilannya memperlakukan orang lain secara menarik dan meyakinkan. Pemimpin juga hendaknya mampu menunjukkan “otoritasnya” melalui kompetensi yang dipercaya, perencanaan matang dan meyakinkan, bukan otoritas dalam arti dominasi. Otoritasnya diperoleh karena kepercayaan yang diberikan oleh para pengikutnya.

Untuk memperoleh dan meningkatkan kepercayaan, seorang pemimpin hendaknya mampu membangun relasi yang baik dan sehat kepada orang lain. Bagaimana kita berelasi dengan orang lain akan menciptakan dan meningkatkan kepercayaan orang lain terhadap kita. Kita hendaknya membangun relasi yang baik dan sehat dengan mengusahakan kedekatan satu dengan yang lainnya. Namun kita juga perlu menyadari bahwa kita tetap berbeda satu dengan yang lainnya, pemimpin berbeda dengan yang dipimpin, orang yang satu berbeda dengan yang lain. Oleh karena itu hendaknya pemimpin mampu menerapkan prinsip orientasi pada relasi dan orientasi pada otonomi secara benar dan tepat. Orientasi pada relasi menjadikan orang dekat satu dengan yang lainnya, membentuk tim yang kuat, merasa aman dan nyaman, saling terbuka, mau mempercayai orang lain dan nyaman bersama orang lain. Sedangkan orientasi pada otonomi, orang tidak mau kehilangan diri mereka sendiri dalam relasinya dengan orang lain, tetapi mencari keunikan dalam keberbedaan. Dalam hal ini mereka lebih kompetetif daripada sebagai tim, lebih individualistik daripada kolektif, dan memilih berdiri sendiri di luar kerumunan untuk memperoleh status sebagai orang spesial. Di dalam setiap organisasi atau lembaga membutuhkan kedua orientasi ini, pemimpinlah yang harus secara bijak memanfaatkannya.








^:^ : IP 9.9.7.1 : 2 ms   
BROTHERS FIC
 © 2024  http://brothers-fic.org//