GENERAL COUNCIL F.I.C. - Prins Bisschopsingel 22, 6211 JX Maastricht, The Netherlands  Phone: *31 (0) 43 3508373
Monday, June 17 2024  - 1 User Online  
HOMEGUESTBOOKCONTACT USFORUM 



03.08.2023 11:27:44 1365x read.
INSPIRATION
Kedewasaan dan Harga Diri (Theo Riyanto, FIC diambil dari Buku "Mau Bahagia?"

Kedewasaan dan Harga Diri

 

Jika kita tidak dewasa dan dikendalikan oleh perasaan-perasaan kita, maka perasaan-perasaan itu akan mempengaruhi harga diri kita. Orang yang tidak dewasa membiarkan harga dirinya dibentuk oleh perasaan-perasaannya dan mengabaikan akal budinya. Perasaan-perasaan yang menentukan gambaran diri akan mengabaikan pertimbangan akal budi. Orang yang mengalami demikian sering kali menyangkal dirinya dan berkata, “Saya seharusnya tahu bahwa saya tidak akan membiarkan apa yang dikatakan orang lain mengendalikan diri saya, tetapi saya tidak dapat berbuat apa-apa”. Saya tidak dapat mengesampingkan suara yang berseru-seru di dalam angan-angan saya, “Alangkah bodohnya saya apabila saya melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang dilakukan orang lain.” Namun, jika diri kita matang, dewasa dan mampu mengendalikan atau mengelola perasaan-perasaan kita, perasaan-perasaan itu tidak akan menguasai dan mengontrol diri kita. Kita tidak mendengarnya dan tidak terpengaruh begitu saja olehnya. Kita tidak membiarkan diri dikontrol dan diatur oleh perasaan-perasaan kita. 

 

Belajar dari perasaan-perasaan yang ada pada diri kita mempunyai manfaat untuk harga diri kita. Perasaan diri berkaitan dengan rasa senang dan rasa sakit. Rasa senang dan rasa sakit menjadi alat penting dan bermanfaat untuk menilai apakah kita melakukan sesuatu sesuai dengan fungsi atau manfaatnya atau hanya sekedar karena rasa senang atau tidak senang saja. Dengan rasa senang, kita akan mudah tertarik untuk mewujudkannya walaupun tidak mudah dan harus bekerja keras. Rasa sakit muncul sebab ada fungsi yang tidak berjalan dengan baik dan benar. Sebagai contoh, rasa senang terhadap makanan tertentu. Tuhan menyediakan alam semesta sebagai sumber makanan yang menarik dan membuat kita menyenanginya, sehingga kita memakannya dan dapat bertahan hidup. Jika kita tidak mau memakannya dan atau tidak memakannya secara benar, kita akan merasa sakit. Apa hubungannya dengan harga diri? Jika kita secara konstan terus menerus menyenangi diri kita dan menyenangi apa yang telah kita lakukan, berarti kita membangun harga diri yang sehat. Tetapi, jika kita membenci diri sendiri dan apa yang telah kita lakukan, kita akan memupuk rasa tidak senang dan rasa bersalah pada diri sendiri. Akibatnya, tingkah laku bukan cerminan dari suatu nilai yang paling dalam. Namun, perlu diingat bahwa perasaan bukanlah dasar yang akurat dan tepat untuk menilai tindakan kita. Meskipun perasaan memberikan sumbangan besar pada harga diri, namun sejauh mana besarnya sumbangan itu tergantung pada kedewasaan kepribadian kita.

 

Bahan Refleksi:

 

Meskipun sudah berusia hampir limah puluh tahun, Theresia sering merasa masih berusia duapuluhan. Ia selalu mencari perhatian dan melakukan segala sesuatu hanya agar ia dapat diterima oleh orang lain, agar dipuji dan dihargai orang lain. Ia tidak banyak memikirkan tentang dirinya sendiri. Baginya yang penting adalah merasa yakin bahwa orang lain merasa “oke”, senang dengan dirinya.

 

Apakah ia bertindak demikian karena kebodohannya? Sama sekali tidak. Sebenarnya ia adalah wanita yang cerdas dan bisa mengembangkan kariernya dengan baik. Selain memiliki seorang suami yang baik dan lima anak yang cerdas-cerdas, ia berhasil juga menduduki jabatan direktris. Namun, tampaknya ia sangat haus akan perhatian.

 

Akhir-akhir ini, ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya. Ia jatuh cinta pada salah seorang rekanan perusahaannya. Laki-laki itu tampan, pandai, menawan, dan berusia sekitar tiga puluhan. Theresia tidak tahu bagaimana harus melampiaskan rasa cintanya yang demikian membara. Ia tidak pernah puas dengan dirinya sendiri. Harga dirinya melambung tinggi setelah laki-laki yang dicintainya itu menyanjungnya sebagai wanita yang cantik, ramah, dan menyenangkan. Bodohkan saya jika saya begitu saja puas dengan diri saya? Apakah saya harus mengatakan pada diri saya sendiri bahwa keinginan-keinginan saya itu impian belaka? Jika jawaban “ya”, sebagian dari perasaan-perasaan saya akan mati sia-sia dan alangkah miskinnya hidup ini tanpa perasaan-perasaan itu.

 

Beberapa bagian dari gambaran diri Theresia tersanjung, namun orang-orang mengatakan bahwa sikap dan tingkahlakunya kurang dewasa. Apa yang harus ia lakukan?








^:^ : IP 9.9.7.1 : 1 ms   
BROTHERS FIC
 © 2024  http://brothers-fic.org//