GENERAL COUNCIL F.I.C. - Prins Bisschopsingel 22, 6211 JX Maastricht, The Netherlands  Phone: *31 (0) 43 3508373
Wednesday, February 4 2026  - 1 User Online  
HOMEGUESTBOOKCONTACT USFORUM 



04.02.2026 02:54:27 7x read.
INMEMORIAM
Inmemoriam Bro. Venantius Sartana

Pengalaman akan Allah Br. Venantius Sartana

Melodi Ilahi dalam Hidupku

Perjalanan hidupnya laksana tembang. Begitulah yang tersirat ketika Br. Venantius Sartana yang akrab dipanggil Br. Venant menuturkan kisah hidupnya. Peristiwa-peristiwa hidupnya bagai nada-nada yang terpilih. Nada-nada itu berjalin ditata elok oleh Yang Agung. Rangkaian nada terpilih itu menjadi tembang kehidupannya.

Bruder Venant lahir dalam keluarga muslim. Ibunya seorang penghayat iman yang setia. Beliau setia melakukan doa-doa harian. Sementara, penghayatan iman ayahnya tidak sebagus ibunya. “Ayah saya tidak sangat menampakkan kereligiusannya. Beliau sedikit longgar, ceria, dan menikmati kebebasan. Berbeda dengan ibu saya,” demikian Br. Venant bertutur tentang kedua orang tuanya.

Dari fakta kedua orang tua ini, kita bisa membayangkan karakter dan sifat macam apa yang mengalir padu pada diri Br. Venant. Pada diri anak kelima dari enam bersaudara ini mengalir sifat kealiman, kegemaran pada hal-hal rohani, kreativitas dalam doa, dan kesetiaan. Sifat-sifat ini menurun dari kualitas dan sifat ibunya.

Pada diri Br. Venant juga mengalir sifat dan karakter lain yang menurun dari ayahnya. Sifat dan karakter itu adalah kreativitas, keceriaan, dan perasaan nikmat hidup dalam kebebasan dan suasana longgar.

Dua karakter itu sepintas tampak berbeda. Mungkin terasa berseberangan. Tapi tidakkah justru karena itu hidup tak bergulir datar? Tidakkah keberbedaan dibutuhkan untuk merangkai nada hingga menciptakan tembang yang elok?

Namun dua kecenderungan, sifat, serta karakter genetis itu juga mencipta dinamika kehidupan. Keutamaan menghadirkan hidup yang kokoh. Kelemahan menghadirkan pengalaman yang merapuhkan asa. Sekali lagi, tidakkah dengan cara seperti itu hidup punya pesonanya? Karakter dan sifat tak unggul memang berpotensi menyulitkan bahkan mencipta kegagalan. Tapi tidakkah rahmat dijanjikan dari kegagalan yang ditobati?

Sampai di sini kita bisa belajar banyak tentang kehidupan. Sejarah genetis Br. Venant menuntun kita untuk menyingkap bilah-bilah kehidupan kita. Pada upaya menyingkap bilah kehidupan itu kita sadari hal-hal yang terberi karena diturunkan dari sifat-karakter-kecenderungan kedua orang tua kita. Hal-hal itu tak bisa ditolak dan dielakkan. Hal-hal itu juga yang bakal berperan dalam mengisah ziarah kita.

Hal-hal yang baik dan unggul dari kedua orang tua tentu disyukuri. Kesadaran akan hal baik yang terberi dari orang tua menegaskan bahwa Allah telah lebih dulu bekerja dalam lintasan peziarahan hidup. Allah telah memberi bekal untuk dapat mencipta warna-warni dan hidup yang bernada di masa-masa mendatang.

Itulah yang agaknya kita temukan pada Br. Venant ketika ia menyajikan ragam kreativitasnya. Kegemaran pada hal yang rohani, menekuni rasa serta mengolahnya, adalah kualitas yang diwariskan ibunya. Ketika hal baik itu berpadu dengan unsur longgar dan puja kebebasan yang diturunkan dari ayahnya, maka Br. Venant mampu mencipta drumband yang unik.

Waktu itu ia bertugas di SD Pangudi Luhur Yogyakarta. Venant muda yang punya minat besar pada musik menjadi pendamping drumband anak-anak. Peralatan terbatas. Dengan alat yang terbatas itu tentu tampilan drumband akan begitu-begitu saja. Menjemukan. Standard. Datar.

Venant muda berpikir keras. Juga menimbang rasa. Dalam laku pikir dan timbang rasa itu, roh puja kebebasan dan hasrat longgar yang diturunkan dari ayahnya menerbitkan ide brilian. Maka ia menambahkan perangkat kenthongan -perkusi sederhana pedesaan yang terbuat dari bambu- pada barisan pemain drumband-nya.

Tak mudah bagi Br. Venant untuk meyakinkan anak-anaknya bahwa drumband kenthongan bisa memesona. Venant muda berjuang. Ia tak hanya berjuang meyakinkan anak. Tapi sebagai pendidik, ia sesungguhnya juga berjuang untuk melawan arus utama tentang apa yang disebut drumband yang baik dan bagus. Perlawanan ini adalah perjuangan untuk menawarkan hingga mengubah cara pandang (persepsi) akan suatu hal.

Tidakkah ini salah satu tugas utama pendidik? Tidakkah untuk itulah guru ada dan disiapkan? Bruder Venant yang bergabung dengan Kongregasi para Bruder FIC, suatu Kongregasi yang menekuni dunia pendidikan dan pendampingan kaum muda, seperti menemukan arenanya. Dan Br. Venant menampilkan permainan yang elok di arena yang tepat.

Setelah berjuang alot, bergulat kuat membangun semangat anak yang masih cenderung ditingkahi emosi dan minat yang labil, akhirnya drumband kenthonganpun siap ditampilkan. Pada suatu perhelatan bersama warga kota, barisan drumband kenthongan tampil. Di luar pikiran anak-anak pemain drumband kenthongan, para penonton terkesan dengan tampilan unik drumband kenthongan. Permainan mereka tak mengesankan ndesani, tapi justru nyeni yang unik-nakal-bebas-namun serasi.

Pada kisah ini disadari betapa Allah telah bekerja pada diri Br. Venant. Allah tak hanya bekerja untuk mengelola gelisah gairah bocah yang dibimbing Br. Venant. Allah tak hanya bekerja dengan menerbitkan ide brilian memadukan kenthongan –suatu alat musik lumrah sederhana— pada perangkat drumband standard. Namun, tidakkah untuk semua itu sesungguhnya jauh-jauh hari Allah telah menyemai benih pada kualitas genetis kedua orang tua Br. Venant?

Begitulah indahnya karya Allah pada Br. Venant tercecap ketika kesadaran direntang ke belakang. Lalu pandang atas kesadaran diolah hingga menemukan wajah yang lain, wajah yang elok, bernada, berlagu.

Tangan-tangan Allah

Karya Allah pada hidup Br. Venant tak hanya tercecap dari karunia terberi dari kedua orang tuanya. Karya Allah terkenali juga dari orang-orang yang terlibat dalam hidupnya. Seperti ada tangan-tangan kecil yang merawat benih-benih terberi pada diri Br. Venant. Karena tangan-tangan kecil itulah, Br. Venant tumbuh dalam keelokannya, memendarkan keutamaan yang diwarisi dari orang tuanya.

“Saya beruntung mempunyai kakak yang menyayangi adik-adiknya,” tutur Br. Venant.

Lalu Br. Venant terus berkisah, “Setelah saya dibaptis, kakak sering mengajak saya berziarah ke Sendang Sono. Kakak juga sering mengajak saya terlibat dalam kegiatan rohani.”

Rasanya apa yang dilakukan sang kakak terhadap Br. Venant bisa dinikmati dengan lebih kaya. Itu bukan hanya bentuk perhatian dan kasih sayang kakak kepada adiknya. Tidakkah itu bisa dinikmati sebagai cara Allah merawat benih panggilan Br. Venant? Tidakkah pada peristiwa itu Allah sedang menguatkan hasrat dan minat pada hal-hal yang rohani dalam diri Venant muda?

Tak heran kalau pada akhirnya Venant muda semasa usia SMP gemar berdoa. Buku doa Padupan Kencana selalu ada bersamanya. Bakat menggemari hal-hal rohani yang diturunkan dari ibunya, kini dipadu dan dikokoh-tegaskan oleh tangan-tangan kecil Allah yang meraga pada orang-orang di sekitar Venant muda. Begitulah Allah bekerja pada peziarahan hidup Br. Venant.

Kalau Allah telah berkehendak dan bekerja, kisah hidup bakal bergulir seturut kehendak-Nya. Begitulah kira-kira yang bisa dikatakan ketika menyadari kisah panggilan hidup sebagai bruder pada diri Br. Venant. Allah bekerja pada kisah “kebetulan” yang “bermakna”.

“Saat masih SMP, bersama teman-teman kami pergi ke Ambarawa,” tutur Br. Venant. “Waktu itu di Ambarawa ada SGB. Setelah sampai di Ambarawa, entah karena apa dan mengapa, kami dibagi dalam dua kelompok. Satu kelompok akan belajar di SGB Ambarawa. Kelompok lain bakal belajar di SGB Muntilan.”

Bruder Venant bertutur bahwa sejujurnya saat itu ia belum tahu tentang SGB Muntilan itu. Maka tak pernah terpikirkan olehnya untuk melanjutkan belajar ke Muntilan. Meski demikian kok sak ndelalahe beliau juga belajar di Muntilan. Sebuah kebetulan bermaknakah? Sebuah karya Allah yang unikkah?

Akhirnya venant muda belajar di SGB Muntilan. Mulailah ia berkenalan dengan para bruder FIC. Venant mudapun mulai mengenal cara hidup yang lain, yaitu hidup sebagai penghayat hidup bakti, sebagai Bruder FIC. Salah satu hal yang menarik bagi Venant muda pada hidup para bruder adalah banyaknya waktu berdoa. Itulah yang akhirnya menjadi salah satu alasan Venant muda memutuskan untuk menjadi bruder FIC. Venant muda ingin mempunyai kesempatan lebih banyak berdoa dengan menjadi bruder FIC.

Sampai di sini, kisah panggilan Br. Venant tak hanya bisa dinikmati sebagai rajutan tangan-tangan kecil Allah yang hadir dengan unik dan penuh misteri. Tapi keputusan memilih hidup sebagai bruder itu seperti telah memiliki ruangnya. Atau, keputusan menjadi bruder itu seperti sesuatu yang menemukan jodoh ruangnya.

Tidakkah kegemaran dan kerinduan memperoleh pengalaman rohani benihnya telah tersemai dalam diri ibu Br. Venant? Tenunan kisah ziarah panggilan Br. Venant yang dinikmati dengan cara semacam itu sungguh menerbitkan ketertakjuban layaknya kisah panggilan Yeremia. Sungguh benar, akal dan nalar manusia tak pernah mencukupi ketika kesadaran jejaring kisah yang merajut peziarahan hidup direntang bentang dalam terang Ilahi.

Menekuni dan menikmati kisah hidup Br. Venant bersama Allah seperti menawarkan sebuah cara untuk merentang ruang berkesadaran. Dalam kesadaran itu, yang lampau bisa dinikmati dan disyukuri dengan penuh kreativitas. Lalu asa dirancang dalam terang.

Pada kisah Br. Venant bersama Allah juga kita dituntun untuk menyadari keterbatasan kita. Betapa akal dan nalar kita tak mencukupi untuk mengetahui cara Allah bekerja. Kita hanya bisa takjub. Dan menikmati simphoni Ilahi pada kehidupan ini.








^:^ : IP 9.9.8.1 : 2 ms   
BROTHERS FIC
 © 2026  http://brothers-fic.org//