GENERAL COUNCIL F.I.C. - Prins Bisschopsingel 22, 6211 JX Maastricht, The Netherlands  Phone: *31 (0) 43 3508373
Sunday, September 22 2019  - 7 User Online  
HOMEGUESTBOOKCONTACT USFORUM 



05.09.2019 21:57:56 76x read.
INDONESIA
News from Indonesia Province.

Yth. Para Bruder dan Frater

       di KOMUNITAS

 

Salam kasih persaudaraan,

Para Bruder dan Frater, bulan September 2019 ini adalah bulan yang istimewa bagi kita. 99 tahun yang lalu, tepatnya 20 September 1920, lima Bruder FIC hadir di Yogyakarta. Kelima bruder itulah yang memulai karya misi FIC di luar Eropa.

Lima Bruder Misinonaris pertama itu adalah Br. August, Br. Constantius, Br. Lebuinus, Br. Eufratius, dan Br. Ivo. Pada hari Minggu, 8 Agustus 1920 sesudah Misa Agung di kapel induk De Beyart Maastricht, Br. August dilantik menjadi Pemimpin Rumah Bruderan pertama di Hindia Belanda, yaitu di Yogyakarta. Nama pelindung Bruderan itu adalah St. Fransiskus Xaverius.

Dari buku Guru-guru dari Maastricht halaman 94 dituliskan tentang latar belakang situasi sosial politik negeri Belanda yang mewarnai perutusan karya misi FIC di Indonesia. Dituliskan demikian:

“Sekitar tahun 1900, lahirlah haluan politik baru di Nederland terhadap daerah koloni di Asia Tenggara. Haluan baru itu dinamakan ‘Politik Balas Budi”. Belanda insaf berutang budi kepada daerah jajahannya, karena telah menerima banyak daripadanya. Maka, sudah sepatutnya bahwa Belanda melunasi utang budinya kepada rakyat pribumi. Makin disadari bahwa kekayaan Hindia-Belanda bukan hanya untuk memperkaya orang di Nederland saja, melainkan harus digunakan pula untuk meningkatkan kebudayaan dan kesejahteraan orang pribumi. Sesuai dengan pemikiran zamannya, orang Eropa merasa ‘lebih’ daripada orang pribumi. Haluan politik baru itu, ‘politik balas budi’, digariskan oleh Ratu Wilhelmina (1880 – 1962) dalam pidato pembukaan Parlemen Belanda pada tahun 1901. Menurut Ratu Wilhelmina, Nederland sebagai negara Kristen berkewajiban terhadap rakyat pribumi. Kata Ratu bahwa pemerintah Belanda ada panggilan moril untuk memajukan orang pribumi, untuk memperlakukan penduduk pribumi secara lebih adil, dan untuk menyebarkan pengutusan kristiani. Ratu Wilhelmina sangat dikagumi umat Katolik Nederland.

Imbauan ratu untuk memajukan pengutusan menggugah hati umat Katolik pula, tetapi istilah ‘zending’ mereka gantikan dengan istilah ‘misi’. Umat Katolik makin menyadari bahwa merekapun mempunyai tugas mulia di Hindia-Belanda, maka umat Katolik Nederland pun mau ikut melunaskan utang itu dengan cara meningkatkan penyebaran karya misi. Bagi para Bruder FIC pun ada peran dalam usaha itu, kata orang.”

Dari tulisan di atas kita bisa menghayati bahwa kehadiran FIC di Indonesia yang waktu itu disebut dengan Hindia Belanda didasari oleh kesadaran moral untuk memajukan orang-orang pribumi (orang Indonesia). Istilah yang digunakan memang Politik Balas Budi. Barangkali lebih baik kita menyebutnya sebagai sebuah kesadaran akan tanggung jawab moral untuk ikut terlibat memperjuangkan nasib orang lain. Dalam bahasa Konstitusi kita adalah kesadaran moral untuk terlibat memperjuangkan hidup seseorang hingga menjadi manusia yang sesungguhnya dan sebenarnya. Itulah roh yang menyertai kehadiran FIC di Indonesia.

Emmanuel Levinas, seorang filsuf Prancis berdarah Yahudi, pernah mengemukakan pemikiran yang amat kristiani. Ia mengatakan bahwa setiap orang memiliki kewajiban moral untuk ikut bertanggungjawab atas nasib orang-orang yang hadir dan ada bersamanya. Rasa bertanggungjawab ini bukan hanya sebuah bentuk empati, tetapi hal ini telah tertanam dalam diri setiap orang hingga menjadi sebuah kesadaran spontan. Maka tanggung jawab atas nasib orang lain itu dikatakan sebagai kewajiban moral.

Mengenang kehadiran FIC di Indonesia mungkin bisa kita hayati sebagai saat untuk kembali berefleksi: Bagaimanakah kesadaran spontan kita pada penghayatan kewajiban moral kita masing-masing maupun sebagai Kongregasi FIC untuk ikut bertanggungjawab atas nasib orang-orang yang dihadirkan Allah bagi kita?

Inilah saat untuk kembali mengenali dan mempertajam sikap peduli dan terlibat kita bagi kehidupan. Itu berarti juga sesungguhnya merupakan saat untuk menyegarkan dan memperkokoh penghayatan kebruderan kita bagi kehidupan alam semesta, yaitu dengan membangun hidup dalam persekutuan persaudaraan. Orientasi hidup kita lebih terarah kepada kehidupan di luar diri kita.

Panggilan untuk ikut bertanggungjawab atas nasib orang-orang di sekitar kita adalah panggilan kenabian di zaman ini. Kini kita hidup di zaman ketika orang cenderung asyik dengan diri dan kepentingannya sendiri. Sejumlah orang pada akhirnya jatuh dalam kesepian dan kenihilan makna, meski hidupnya dilengkapi sarana hidup yang lengkap dan mewah.

Kembali membangun hidup dalam roh kebruderan, yaitu dengan menguatkan hidup persekutuan, seperti menjadi pertolongan ilahi untuk membebaskan orang-orang dari tempurung egoisnya. Ketika tempurung egois itu disingkap, maka ia akan melihat indah dan luas longgarnya kehidupan.

Para Bruder dan Frater, berikut ini kami sampaikan beberapa informasi tentang kehidupan para Bruder dan Frater di Provinsi Indonesia sampai pada awal September 2019 ini:

 

  1. 1.  Pertemuan Bruder Studi 10-11 Agustus

Pertemuan Bruder Studi tahun ini diselenggarakan pada 10-11 Agustus 2019 di Bruderan Candi Don Bosko Semarang. Pertemuan dimulai sore hari. Setelah doa pembuka para bruder bersama-sama melakukan penyadaran tentang tugas studi terkait tata kelola kongregasi. Br. Sidharta memfasilitasi penyadaran ini.

Para bruder yang sedang menjalani studi diajak menyadari bahwa tugas studi adalah upaya tarekat untuk menolong para bruder agar pada saatnya bisa ikut terlibat dalam pengelolaan kongregasi. Karena itu dalam menjalani studi para bruder perlu mengembangkan banyak hal, bukan hanya menguasai bidang ilmu yang sedang dipelajari. Para bruder tetap harus bertekun menumbuhkembangkan keterampilan hidup sebagai religius.

Para bruder juga diajak untuk menyadari situasi konkret kesiapan Provinsi Indonesia melanjutkan pengelolaan hidup kerasulannya. Sejumlah bruder yang kini mejabat kepala sekolah telah memasuki tahun-tahun akhir masa kerja, untuk selanjutnya masuk usia pensiun. Pada saat yang sama begitu banyak bruder yang kini menjabat Kepala Sekolah masih berijazah S1.

Bila saatnya Pemerintah menerbitkan syarat untuk menjadi Kepala Sekolah adalah minimal berijazah S2,  plus persyaratan lain; maka bisa diperkirakan berapa banyak bruder yang bisa menjadi Kepala Sekolah. Konsekuensinya adalah suka tidak suka, siap tidak siap, kita harus mau dipimpin awam yang sudah memenuhi persyaratan administratif untuk menjabat sebagai Kepala Sekolah, sebagai rekan berkerasulan kita di sekolah.

Menyikapi fakta konkret ini maka para bruder yang mendapat tugas studi perlu mengembangkan karakter rendah hati dan keterampilan bekerja bersama dengan orang lain, khususnya bila harus dipimpin kaum awam dalam kerasulan di sekolah.

Bagi pengalaman menyelesaikan tugas studi dari Br. Agustinus Marsanto dan Br. Elwin sangat inspiratif. Kedua bruder itu membagikan pengalaman konkret perjuangan menjalani tugas studi dengan tetap terlibat melakukan tugas kerasulan di sekolah atau asrama, dan tetap merawat keutamaan-keutamaan hidup sebagai religius. Dari pengalaman Br. Marsanto para bruder disadarkan betapa mendesaknya untuk mengembangkan keterampilan dalam berbahasa Inggris.

Di hari kedua para bruder juga mendapat bagi pengalaman dari Br. Eko Wahyudi dan Br. Romanus Paryanto yang masih bergulat dengan penyelesaian tugas akhirnya. Pertemuan ini menyadarkan bahwa tugas studi memang harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Tugas studi adalah keniscayaan untuk melanjutkan kehadiran FIC di Indonesia lewat karya pendidikan formal.

 

  1. 2.  Pertemuan Bruder yang berkarya di YPL

Pertemuan para Bruder yang berkarya di YPL diselenggarakan di RR. Syalom pada 24-25 Agustus 2019. Pada pertemuan ini para bruder diajak untuk kembali menyadari Rekomendasi Kapitel Provinsi Indonesia 2018 terkait dengan Yayasan Pangudi Luhur. Hal ini dimaksudkan agar hal-hal yang sudah dan masih akan terus diusahakan oleh YPL sesuai dengan amanat Kapitel.

Selain itu para Pengurus YPL mengajak para bruder untuk menyadari situasi konkret yang dialami YPL hari-hari ini. Ini merupakan upaya agar setiap hal yang dipikirkan, dirancangkan, diprogramkan, sampai diperjuangkan oleh para bruder dalam berkerasulan di YPL sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yayasan.

Pertemuan ini menjadi sarana yang sangat baik untuk mengomunikasikan situasi konkret yang dialami YPL, peluang dan tantangan yang dihadapi, serta kondisi-kondisi praktis yang dialami dalam pengelolaan karya di YPL. Komunikasi yang baik akan semakin menolong para bruder untuk lebih optimal dalam berkerasulan di YPL. Kita berharap kegiatan ini dapat membangun sikap bahwa karya di Yayasan Pangudi Luhur adalah karya semua bruder di Provinsi Indonesia.

  1. 3.  Tugas Kerasulan Br. Markus Sujarwo

Karena kebutuhan kepemimpinan di SD PL Timotius Purbayan, maka mulai September 2019 Br. Markus Sujarwo mendapat tugas sebagai Kepala Sekolah SD PL Timotius Purbayan Surakarta. Semoga tugas baru yang dipercayakan kepada Br. Markus Sujarwo dapat dilaksanakan dengan baik, demikian juga tetap fokus pada tugas studi S2, serta tekun dan setia dalam merawat keutamaan hidup religius.

  1. 4.  Pendalaman dan retret masa sabatikal

Telah kita ketahui bersama bahwa pada tahun ini para bruder yang mengucapkan prasetia pertama pada tahun 1994 merayakan syukur hidup bakti selama 25 tahun. Salah satu bentuk perayaan syukur itu adalah dengan melakukan pengolahan hidup dan olah rohani secara istimewa. Rangkaian kegiatan itu dihayati sebagai kegiatan masa sabatikal.

Pada tanggal 24 – 28 September 2019 Br. Agustinus Subaryana, Br. Antonius Parjana, Br. Pilipus Sukiran, dan Br. Yosef Anton Utmiyadi  akan melakukan pengolahan hidup bersama Br. Petrus Suparyanto di RK. Roncalli. Pengolahan hidup ini sebagai bagian dari persiapan untuk menjalani retret panjang.

Bruder Eustachius Eko Wijayanto dan Br. Michael Sidharta Susila yang juga satu angkatan pengucapan prasetia pertama pada tahun 1994 tidak mengikuti kegiatan tersebut. Bruder Eko masih ada di Chile. Ia telah memiliki rancangan perayaan syukur di Provinsi Chile. Sementara Br. Sidharta telah menjalani masa sabatikal dengan mengikuti Kursus Pendamping Rohani pada Januari – Juli tahun 2016 yang lalu.

Selanjutnya pada 30 September – 30 Oktober 2019 Br. Agustinus Subaryana, Br. Antonius Parjana, Br. Pilipus Sukiran, dan Br. Yosef Anton Utmiyadi akan menjalani retret agung di RK. Roncalli. Retret agung akan didampingi oleh Br. Redemptus Lastiya.

Marilah kita dukung keempat bruder yang akan menjalani perayaan syukur 25 tahun hidup bakti sebagai Bruder FIC dengan kegiatan pengolahan hidup dan retret agungnya. Semoga banyak pencerahan dan buah rohani yang didapat.

 

  1. 5.  Bruder Petrus Suparyanto kembali ke Indonesia

Pada akhir bulan Agustus 2019 Br. Petrus Suparyanto telah meninggalkan Netherland untuk kembali ke Provinsi Indonesia. Setelah menyelesaikan studi doktoralnya Br. Petrus masih berkesempatan memperdalam spiritualitas Ignatian di Spanyol. Sepulang dari Spanyol Br. Petrus segera menyelesaikan berbagai urusan administrasi kependudukan untuk selanjutnya mencabut ijin tinggal di Netherland.

Setiba di Indonesia Br. Petrus sejenak menyempatkan diri untuk rekreasi agar memperoleh kesegaran jiwa dan raga. Kita berharap dengan segala bekal ilmu yang dimiliki, pengolahan hidup yang telah ditekuni, serta kesegaran jiwa dan raga, Br. Petrus bisa kembali terlibat dalam pengelolaan kerasulan dan hidup berkongregasi di Provinsi Indonesia. Selamat datang Br. Petrus. Selamat berbagi buah-buah studi dan pengolahan hidup yang telah dilakukan agar kehidupan di Provinsi Indonesia kian indah dan semarak.

 

  1. 6.  Bruder Romanus Paryanto selesai studi

Pada Jumat, 30 Agustus 2019 yang lalu Br. Romanus Paryanto telah menjalani wisuda dari studinya di Akademi Teknik PIKA Semarang. Dengan demikian selesai sudah studi Br. Romanus. Kita bersyukur Br. Romanus dapat menyelesaikan studi tepat pada waktunya. Semoga ilmu yang dipelajari, juga pengalaman selama menjalani masa studi dapat memperkaya Br. Romanus. Kita berharap dengan bekal ilmu dan pengalaman studi itu, hidup Br. Romanus lebih-lebih dalam hal penghayatan hidup bakti sebagai bruder religius semakin berkembang.

Untuk sementara Br. Romanus tetap tinggal di Komunitas Randusari sampai mendapat perutusan yang baru. Selama tinggal di Randusari dan menunggu perutusan yang baru Br. Romanus akan lebih banyak memberi perhatian pada pengolahan hidup, penguatan penghayatan hidup religius, dan persiapan pembaruan prasetia/prasetia seumur hidup. Proficiat Br. Romanus.








^:^ : IP 18.206.48.142 : 3 ms   
BROTHERS FIC
 © 2019  http://brothers-fic.org//