GENERAL COUNCIL F.I.C. - Prins Bisschopsingel 22, 6211 JX Maastricht, The Netherlands  Phone: *31 (0) 43 3508373
Friday, August 14 2020  - 2 User Online  
HOMEGUESTBOOKCONTACT USFORUM 



10.07.2020 16:28:25 108x read.
INDONESIA
Berita Provinsi Indonesia.

 

Juli 2020

  

Allah adalah kasih, marilah kita mewartakan kasih Allah.

 

Salam kasih persaudaraan.

Kita masih bertekun dengan kondisi hidup akibat pandemi COVID-19. Meski beberapa daerah telah mengupayakan tata hidup dengan cara baru, kondisi hidup yang kita alami masih belum sepenuhnya kembali normal.

Pemerintah masih mengusahakan protokol tata hidup yang ketat. Akibatnya banyak hal dalam aktivitas hidup sehari-hari harus disesuaikan dengan tata aturan tersebut. Termasuk yang terbaru adalah pengalaman bagaimana kita menyelenggarakan acara tahunan penerimaan novis kanonik dan upacara prasetia pada 1 dan 2 Juli. Acara tersebut tahun ini kita selenggarakan dengan mengindahkan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah secara ketat.

Beberapa hari sebelumnya, kita juga telah menunjukkan sikap kepatuhan kita dalam menjalankan apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah, yaitu saat memutuskan kremasi bagi Br. Matheus Sukirjan. Pemerintah, lewat para petugas kesehatan dan aparat bersikap tegas dan tidak bisa tawar-menawar.

Sebagai bagian dari bangsa ini, kita tetap mengindahkan apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Rasanya ini pantas kita syukuri. Pilihan kita menaati aturan pemerintah terkait pandemi COVID-19 ini bisa menjadi laku untuk merawat hidup berdasarkan aturan dan kesepakatan bersama.

Semestinya memang begitulah kehidupan dijalani. Ketika seseorang masuk dalam bagian kelompok sosial, maka ia wajib patuh terhadap aturan dan kesepakatan bersama, baik tertulis maupun tidak tertulis. Aturan tertulis itu kita kenal dalam bentuk tata tertib atau konstitusi. Pada konstitusi itulah hak dan kewajiban setiap anggota dijamin. Konstitusi dirumuskan untuk memberi kepastian bahwa setiap anggota memiliki ruang dan kesempatan yang dibutuhkan untuk mengupayakan hidup yang terbaik secara adil.

Maka, semestinya menaati aturan hidup bersama, termasuk Konsituti – Statuta – dan peraturan-peraturan yang lain yang legal itu diwujudkan dengan kesadaran, ketulusan, keikhlasan, dan sebagai perwujudan cinta serta kebermartabatan diri. Begitulah setiap orang sebagai anggota kelompok sosial/ organisasi/ tarekat/ kongregasi memartabatkan dirinya. Itu pilihan yang bermartabat karena ia menciptakan ruang dan waktu untuk memuliakan hidupnya sendiri dan hidup sesamanya.

Sebaliknya, ketidakmampuan seseorang yang telah menjadi bagian dari Kongregasi atau kelompok sosial menjalani hidup sesuai aturan atau konstitusi yang telah ditetapkan secara legal adalah tanda pasti ketidakbermartabatan dirinya. Apalagi bila ketidakpatuhan pada konstitusi itu disadari dan disengaja, jelas mutu orang yang demikian amatlah rapuh.

Sampai di sini kita bisa menjalani dinamika hidup baru akibat pandemi COVID-19 ini sebagai kesempatan untuk kembali menjalani hidup yang bermutu dan bermartabat. Hidup sesuai aturan (Konstitusi) adalah ikhtiar logis memuliakan diri demi beroleh keselamatan jiwa. Semoga.

Para Bruder dan Frater, berikut ini kami sampaikan beberapa informasi tentang kehidupan para Bruder dan Frater di Provinsi Indonesia sampai pada awal Juli 2020 ini:

1.     Akhir peziarahan Br. Matheus Sukirjan

Kisah hidup dan perjalanan panggilan Br. Matheus pernah kita simak dalam sharing pengalaman rohaninya beberapa tahun yang lalu. Pada edaran sharing pengalaman itu, Br. Matheus digambarkan sebagai pribadi yang sederhana dan berusaha memaknai anugerah panggilannya dengan sederhana juga. Kesederhanaan, juga kerapuhan, diakui oleh Br. Matheus. Kerapuhan dan kesederhanaan yang mewarnai hidupnya itu banyak dipengaruhi oleh perjalanan hidupnya, lebih-lebih selama tinggal bersama keluarganya.

Dalam pergulatan hidup yang terbangun dalam kesederhanaan dan kerapuhan itu terasa sekali perjuangan Br. Matheus untuk memberi makna yang lebih. Pada idolanya yaitu para kudus, dan yang paling favorit adalah St. Faustina, terasa benar betapa Br. Matheus ingin melampaui kerapuhannya untuk menggapai kesempurnaan dan kekudusan.

Maka kita lebih mengenal Br. Matheus yang gemar melakukan latihan-latihan doa dan ragam pelayanan seputar peribadatan dan sakramen. Itulah ruang ekspresi yang membuatnya merasa berada, berarti, dan bermakna. Juga saat masa pandemi COVID-19 Br. Matheus tetap berkerashati untuk mengirim komuni suci kepada sejumlah umat. Kini kita bisa menghayati fakta itu sebagai ikhtiar Br. Matheus untuk mensyukuri anugerah panggilan suci dengan melampaui keterbatasan dan kerapuhannya.

Akhir peziarahan hidup Br. Matheus juga sederhana. Pada Rabu, 17 Juni 2020 beliau mengalami kurang enak badan. Lalu para bruder di Postulat memeriksakannya ke dokter di Muntilan. Meski telah meminum obat dari dokter namun kondisinya semakin buruk. Mungkin ini juga disebabkan karena telah cukup lama Br. Matheus kurang memerhatikan asupan makanan dan minuman yang menyebabkan staminanya kurang kokoh.

Akhirnya diputuskan untuk memeriksakan Br. Matheus lebih serius. Pada Minggu, 21 Juni 2020 Br. Matheus masuk RS. Elisabeth Semarang. Dari pemeriksaan awal pada foto torak menunjukkan pada paru-paru terdapat lendir. Kadar oksigen dalam darah juga rendah. Karena sedang dalam masa pandemi COVID-19, tampilan pemeriksaan awal semacam itu patut didugai terinfeksi virus COVID-19. Maka Br. Mateus masuk dalam perawatan pasien terinfeksi COVID-19 dengan protokol khusus.

Senin, 22 Juni 2020 pagi dimulailah rangkaian pemeriksaan COVID-19 untuk Br. Matheus. Siang hari diadakan pemeriksaan dengan mengambil sampel lendir pada saluran pernapasan dalam (tes swab). Setelah pengambilan sampel, kondisi Br. Mateus menurun drastis. Hingga akhirnya Senin, 22 Juni 2020, pk. 13.55 tim dokter menyatakan Br. Mateus telah wafat.

Karena menjalani proses perawatan protokol pasien terinfeksi COVID-19, maka perawatan jenazah juga mengikuti protokol yang telah ditetapkan pemerintah. Dengan berbagai pertimbangan sesuai aturan ketat protokol yang ditetapkan pemerintah, Dewan Provinsi memutuskan untuk mengremasi Br. Mateus.

Sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah, jenazah yang sebelumnya telah mengalami perawatan pasien khusus terinfeksi COVID-19 hanya diberi waktu maksimal 4 jam sejak dinyatakan meninggal untuk seluruh proses perawatan jenazah. Jenazah tersebut harus dikuburkan pada kedalaman minimal 1,5 meter atau dikremasi.

Atas ketentuan protokol tersebut, permohonan Br. F.A. Dwiyatno untuk memakamkan alm. Br. Matheus pada makam para bruder seperti biasa ditolak pihak yang berwenang. Sementara untuk melakukan penguburan di kerkhof Ambarawa juga tidak bisa dipastikan apakah dalam waktu singkat cukup waktu untuk menggali kubur. Kerumitan lain, apakah warga sekitar kerkhof bisa menerima proses pemakaman yang akan dilakukan oleh petugas khusus dari pemerintah sesuai protokol yang ditetapkan.

Dengan segala pertimbangan, akhirnya setelah berkonsultasi dengan anggota Dewan Provinsi lain, diputuskan untuk mengremasi alm. Br. Matheus. Itulah pilihan yang rumit, meskipun realistis.

Kremasi dilakukan di rumah kremasi Kedungmundu Semarang. Sebelum kremasi diadakan ibadat singkat di kamar jenazah RS. Elisabeth. Ibadat dihadiri para bruder dari komunitas Don Bosko, Wisma Bernardus, Randusari, dan Postulat. Setelah ibadat dilanjutkan kremasi. Pada upacara kremasi bergabung pula komunitas Anunciata Bandungan dan Surakarta.

Pada hari Senin, 29 Juni 2020 hasil tes swab Br. Matheus telah jadi. Hasil tes swab menunjukkan bahwa Br. Matheus tidak terinfeksi virus corona. Wafat Br. Matheus murni disebabkan oleh gagal nafas karena pneumonia.

Semoga Br. Matheus Sukirjan kini telah mengalami apa yang dirindukannya, yaitu tinggal dalam terang kasih Allah bersama para kudus. Br. Matheus selamat jalan. Doakan kami yang masih berziarah di dunia ini.

2.     Penerimaan novis dan prasetia

Dengan tetap mengindahkan aturan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah terkait pandemi COVID-19 ini, kita tetap menyelenggarakan triduum, penerimaan novis baru, dan upacara prasetia. Semua kegiatan ini dilaksanakan di Muntilan.

Jauh-jauh hari Dewan Provinsi telah meminta para bruder di Komunitas Muntilan untuk membentuk panitia kegiatan 1 – 2 Juli 2020. Untuk tahun 2020 ini rangkaian kegiatan tersebut harus dipersiapkan dengan berbeda. Pertama-tama panitia perayaan harus memastikan ijin dari pemerintah setempat dan kepolisian. Maka kegiatan 1 – 2 Juli tahun ini diselenggarakan dengan sangat berbeda. Upacara disederhanakan. Orang-orang yang bisa hadir juga dibatasi hanya sekitar 70 orang.

Pada umumnya kegiatan berjalan dengan baik. Pada setiap perayaan selalu dalam pengawasan polisi sektor Muntilan. Undangan dan semua yang terlibat perayaan wajib melalu protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

Pada tahun ini setelah penerimaan dua novis kanonik baru tanggal 1 Juli 2020 bagi Fr. Ganeso Arli Buulolo dan Fr. Thomas Eka Bima, dilanjutkan upacara pembaruan prasetia. Hal ini dimaksudkan untuk merampingkan kegiatan yang mesti dilakukan. Upacara prasetia pertama bagi Br. Thomas, Br. Arcancio, Br. Hiero, dan Br. Adrianus diselenggarakan bersama para bruder yang berprasetia seumur hidup yaitu Br. Eko Susanto, Br. Romanus, dan Br. Sarwono.

Karena tuntutan pembatasan orang yang hadir, maka pada perayaan ini juga tidak menghadirkan keluarga bruder. Keluarga bruder yang hadir hanyalah keluarga bruder yang berprasetia seumur hidup yaitu dari keluarga Br. Andrias Eko Susanto dan Br. Romanus Paryanto.

Karena pembatasan undangan untuk menghadiri perayaan 1 – 2 Juli 2020 di Muntilan, maka panitia perayaan juga harus mengupayakan penayangan perayaan secara langsung lewat youtube. Inilah untuk kali pertama perayaan 1 – 2 Juli di Muntilan bisa diikuti secara live streaming oleh para bruder di mana saja, termasuk di provinsi lain. Rasanya fakta ini juga pantas kita syukuri sebagai suatu berkat bagi Kongregasi secara keseluruhan.

Secara umum rangkaian upacara penerimaan novis kanonik, prasetia pertama, pembaruan prasetia, dan prasetia seumur hidup dapat berjalan lancar. Kita ucapkan terimakasih kepada para bruder dan frater di Komunitas Muntilan dan Postulat yang telah mengusahakan terselenggaranya kegiatan ini.

3.     Triduum pestawan 60 tahun dan 25 tahun

Pada Juli 2020 ini kita ikut bersyukur atas 60 tahun hidup bakti yang telah dijalani oleh Br. Yosaphat Sukosuwito dan 25 tahun hidup bakti yang telah dijalani oleh Br. Yohanes Sugiyono dan Br. Zakarias Puji Lestariyo.

Sebagai rangkaian perayaan syukur itu Tim Pemitraan Bruder Medior Senior memandu triduum bagi para pestawan. Triduum diselenggarakan pada tanggal 23 – 26 Juni 2020 di Muntilan. Triduum dipandu oleh Br. Petrus Anjar Trihartono dan Br. Sidharta Susila.

Selain menerima penyegaran beberapa hal tentang penghayatan hidup bakti, para bruder pestawan lebih banyak diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman penghayatan hidup sebagai bruder FIC. Para bruder pestawan juga mendapat kesempatan untuk ziarah ke Taman Doa Gantang. Di akhir triduum para bruder pestawan dipandu untuk merancang kegiatan sabatikal dalam rangka mensyukuri 25 tahun dan 60 tahun hidup bakti. Semoga para bruder pestawan mendapat banyak manfaat dari triduum. Semoga rasa syukur atas 25 tahun dan 60 tahun kian mendalam.

 

4.     Perutusan baru

Mempertimbangkan perkembangan situasi dan kebutuhan pengelolaan hidup berkomunitas dan pelayanan kerasulan, maka Dewan Provinsi melakukan perubahan formasi para bruder beserta perutusannya, yaitu:

a.    Br. Yoezep Margiyanto dari RK. Roncalli ke Komunitas Salatiga dengan tugas pengurus rumah tangga.

b.    Br. Savio Gino Nataprayoga dari Komunitas Muntilan ke Komunitas Postulat dengan tugas Pendamping Postulan.

5.     Domisili Br. Romanus Paryanto

Telah kita ketahui dalam daftar Mutasi I diberitakan bahwa Br. Romanus Paryanto akan mendapat perutusan ke Timor Leste. Namun karena pemerintah Indonesia maupun Timor Leste masih memberlakukan protokol ketat COVID-19 terkait perpindahan warga, maka perpindahan Br. Romanus ke Timor Leste belum bisa segera dilakukan. Dari informasi yang diterima, otoritas keimigrasian Timor Leste di Atambua pada Pos Lintas Batas Tradisional maupun PLBNT Mota’ain yang berada di wilayah kerja Imigrasi Atambua, hanya dibuka selama 2 jam setiap harinya mulai pukul 09.00 WITA s.d. 12.00 WITA khusus untuk warga Timor Leste. Selain warga Timor Leste tidak dapat memasuki wilayah Timor Leste.

Terkait kondisi ini maka selama menunggu keberangkatan ke Timor Leste Br. Romanus akan tinggal di Komunitas Muntilan. Status keanggotaan komunitas menjadi anggota komunitas Provinsialat. Selama tinggal di Muntilan Br. Romanus akan terus memperdalam proses produksi perkayuan di unit produksi kayu.

6.     Penundaan visitasi kanonik Dewan Umum dan pembatalan ConCon.

Pada Hari Provinsi tahun ini di bulan Januari 2020 telah diinformasikan bahwa pada bulan Juli dan Agustus Dewan Umum akan melaksanakan Visitasi Kanonik di Provinsi Indonesia untuk komunitas-komunitas di pulau Jawa. Pandemi COVID-19 telah membuat banyak agenda kongregasional harus menyesuaikan, termasuk juga agenda visitasi kanonik Dewan Umum.

Melalui surat tertanggal 3 Juni 2020 Dewan Umum memberitahukan perihal penundaan visitasi kanonik untuk Provinsi Indonesia di tahun 2020 ini. Dewan Umum kesulitan mendapatkan visa untuk meninggalkan Netherland dan masuk ke Indonesia.

Selanjutnya agenda visitasi kanonik akan dijadwalkan ulang dengan visitator dari Pemimpin Provinsi atau anggota Dewan Provinsi yang lain.

Congregational Conference (Con-Con) 2020 yang sedianya akan di selenggarakan di Indonesia pada 2 – 16 September 2020 juga akhirnya dibatalkan. Pembatalan ini juga disebabkan karena kesulitan untuk melakukan perjalanan antar negara dan belum adanya kepastian negara-negara untuk memberi ijin memasuki suatu negara maupun potensi kesulitan kembali masuk negara asal akibat protokol kesehatan terkait COVID-19. Selanjutnya Dewan Umum akan tetap mengusahakan komunikasi lewat internet dengan para pemimpin provinsi untuk menyerap sejumlah gagasan dan isu yang sedianya dibicarakan dalam Con-Con 2020.

7.     Br. Albert mengikuti kursus persiapan prasetia seumur hidup di RK. Roncalli

Mulai Minggu, 5 Juli sampai 23 Agustus Br. Yohanes Albert Pratama akan mengikuti kursus persiapan prasetia seumur hidup di Rumah Khalwat Roncalli. Kursus ini merupakan bagian dari persiapan panjang untuk pengucapan prasetia seumur hidup.

Kita berharap kursus ini dapat menolong Br. Albert untuk kembali mengenali peziarahan panggilan yang telah dijalani dan menata diri untuk pada saatnya siap mengucapkan prasetia seumur hidup. Seperti kita pahami bersama, kesiapan diri yang baik dalam mengucapkan prasetia seumur hidup akan sangat berguna bagi bruder untuk bertekun dan setia hidup sebagai bruder FIC setelah mengucapkan prasetia seumur hidupnya. Selamat menjalani kursus persiapan prasetia seumur hidup Br. Albert. 

8.     Perutusan yuniorat

Pada hari Kamis, 2 Juli 2020 keempat frater novis lanjutan telah mengucapkan prasetia pertamanya. Selanjutnya mereka akan menjalani masa yuniorat selama satu tahun.

Masa yuniorat akan dipimpin oleh Br. Petrus Anjar. Enam bulan pertama para bruder yuniorat akan belajar tentang metode pendampingan rekoleksi dan retret serta kegiatan kelompok, khususnya kelompok kaum muda. Dua bruder diutus belajar di RR. Syalom dan dua bruder lain belajar di Civita Youth Camp, Jakarta, yaitu:

  1. Br. Thomas Aquinas Prastianto dan Br. Adrianus Heru Puhun diutus ke RR. Syalom.
  2. Br. Arcancio Amaral dan Br. Hieronymus Wisnumurti Rahadyan diutus ke Civita Youth Camp – Jakarta.

Semoga para bruder yuniorat dapat menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin, dengan tekun belajar berbagai metode pendampingan kelompok, khususnya kaum muda. Keseriusan mereka kelak akan sangat berguna untuk dapat terlibat dalam kehidupan kongregasi, khususnya dalam berkerasulan.

9.     Bruder Petrus Ponidi menjalani rawat inap

Setelah beberapa hari mengalami kondisi tubuh yang tidak nyaman, khususnya pada bagian kaki, akhirnya pada hari Rabu, 24 Juni 2020 Br. Petrus Ponidi memeriksakan diri di RS. Carolus Jakarta.

Pada pemeriksaan awal laboratorium darah menunjukkan kadar leukosit yang tinggi. Hasil pemeriksaan laboratorium ini menunjukkan bahwa telah terjadi infeksi pada tubuh Br. Petrus Ponidi. Karena itu rumah sakit menyarankan agar Br. Petrus menjalani rawat inap. Hari itu Br. Petrus dirawat di ruang Xaverius 714. Dalam proses pemeriksaan dan perawatan ternyata memang ada kondisi pembuluh darah vena pada kaki bagian bawah yang butuh perawatan. Kondisi ini sebetulnya juga telah beberapa waktu dialami oleh Br. Petrus.

Syukurlah perawatan di RS. Carolus berjalan baik dan lancar. Pada hari Rabu, 1 Juli 2020 Br. Petrus sudah diperbolehkan kembali ke komunitas. Semoga kesehatan Br. Petrus Ponidi segera pulih, sehingga dapat kembali beraktivitas dengan baik.

 

Para Bruder dan Frater yang terkasih, demikian Surat Edaran kami pada awal bulan Juli 2020.

 

                                              Salam dan doa,

                                    atas nama  Dewan Provinsi

  

                                      Bruder F.A. Dwiyatno, FIC

                                               Pemimpin Provinsi








^:^ : IP 9.9.1.1 : 2 ms   
BROTHERS FIC
 © 2020  http://brothers-fic.org//