GENERAL COUNCIL F.I.C. - Prins Bisschopsingel 22, 6211 JX Maastricht, The Netherlands  Phone: *31 (0) 43 3508373
Sunday, August 18 2019  - 7 User Online  
HOMEGUESTBOOKCONTACT USFORUM 



28.01.2019 16:04:12 747x read.
INDONESIA
Anugerah Potensi Diri (oleh Theo Riyanto FIC).

Anugerah Potensi Diri

 

“Semakin kita menjadi tua, kita akan semakin memahami bahwa bukan soal seperti apa dan apa saja yang kita miliki, namun tentang menjadi pribadi macam apa diri kita ini.”

“Perkembangan diri yang sejati adalah semakin menjadi pribadi dan matang dan dewasa, berkembang sepenuhnya sesuai dengan potensi diri yang dianugerahkan Tuhan kepada kita.”

Sumber dari segala “penciptaan” adalah kesadaran, anugerah potensi diri yang mencari perwujudannya untuk menjadi suatu kenyataan. Potensi yang mewujud. Kita perlu menyadari bahwa diri sejati kita merupakan salah satu dari anugerah potensi diri. Kita menjadi semakin mewujud menjadi diri yang sejati ketika kita mewujud dalam keharmonisan dengan sesama, alam ciptaan, dengan segala ciptaan yang lain, Tuhan dan diri-sendiri.

Kita pada dasarnya adalah pribadi yang dianugerahi kesadaran dan potensi diri yang berlimpah dari Tuhan. Kita dianugerahi banyak potensi dan kreativitas ilahi. Jikalau kita berhasil mengembangkan dan mewujudkan potensi-potensi diri dan segala kreativitas kita, kita mengalami kesuksesan hidup. Kita menjadi pribadi yang sejati, merdeka dan bersukacita. Dengan segala potensi dan kreativitas yang kita miliki dan kita kembangwujudkan, kita akan menggapai kebahagiaan hidup. Kita menjadi pribadi yang seimbang, tenang, sederhana, dan mampu “melihat” yang tak terlihat dengan mata biasa. Inilah sejatinya diri kita.

Ketika kita mampu menemukan hakikat dan siapakah diri kita sesungguhnya, kita akan mampu memenuhi segala impian yang kita miliki, sebab kita semua dianugerahi kemungkinan-kemungkinan yang “tak terbatas” dari yang Ilahi. Syaratnya adalah membawa potensi, kreativitas dan kemungkinan-kemungkinan tersebut ke dalam yang Ilahi. Sebab bagi Tuhan tidak ada yang tidak mungkin. Semakin kita mengenali diri kita, potensi-potensi diri dan segala kemungkinan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, kita semakin mampu untuk mencapai kesuksesan hidup.

Pengalaman akan diri kita yang sejati adalah pengalaman yang berdasar pada diri kita yang sebenarnya, yang bersumber pada “daya” di dalam diri sendiri. Diri kita menjadi subyek pengalaman hidup kita, dan bukannya sekedar obyek belaka. Seringkali dalam kehidupan kita, diri kita justru banyak dipengaruhi oleh hal-hal di luar diri kita. Kita sekedar menjadi obyek dunia luar diri kita, termasuk lingkungan, situasi, orang-orang, dan juga barang-barang di sekitar kita. Dalam situasi demikian kita seringkali mengejar pengakuan dan pembuktian dari luar diri kita. Akibatnya pikiran dan tingkahlaku kita hanya merupakan kumpulan tanggapan kita terhadap dunia luar, bukannya hasil pengembangan potensi dan kreativitas dalam diri. Oleh karenanya hidup kita hanya berdasar pada pengaruh dari luar diri. Situasi hidup kita tergantung dari tanggapan dan harapan dari orang-orang atau situasi di sekitar kita. Hidup yang demikian sangatlah tidak sehat dan tidak dianjurkan untuk menggapai kesuksesan hidup.

Karena kita mengalami sekedar sebagai obyek, kita terdorong untuk mengontrol segala sesuatu. Kita juga sangat membutuhkan kekuatan dari luar diri. Kebutuhan akan peneguhan, kebutuhan akan kemampuan mengontrol, dan kebutuhan akan kekuatan dari luar merupakan kebutuhan-kebutuhan yang muncul dari perasaan takut, perasaan khawatir, perasaan kurang percaya diri. Kekuatan ini bukanlah berasal dari anugerah potensi diri atau diri yang sejati, bukan merupakan kekuatan yang sesungguhnya bagi kita. Saat kita mengalami kekuatan diri kita yang sesungguhnya, kita tidak akan mengalami ketakutan atau kekawatiran, tidak ada kompulsi untuk mengontrol sesuatu, dan tidak perlu selalu berusaha untuk memperoleh peneguhan dari luar diri.

Dalam pengalaman diri sebagai obyek dari luar diri kita, pusat referensi kita adalah ego. Namun bagaimanapun juga ego bukanlah diri kita yang sebenarnya. Ego hanyalah gambaran-diri kita, ego adalah diri-sosial kita, ego adalah diri bagaimana kita bermain peran di hadapan orang lain. Diri-sosial kita selalu membutuhkan peneguhan dan penerimaan orang lain. Hidup yang hanya berdasar pada ego, selalu mendorong kita untuk mengontrolnya dan menjaganya dengan kekuatan kekuasaan karena selalu berada dalam ketakutan, kekawatiran, karena kurang percaya diri.

Diri sejati kita adalah jiwa yang merdeka yang tidak dikuasai oleh ketakutan, yang tidak didorong oleh keinginan untuk mengontrol dan kehausan akan peneguhan dari orang lain. Diri sejati adalah diri yang tidak terikat pada apapun, yang tidak menjadi obyek apapun, bebas dari segala keinginan yang tidak teratur. Diri sejati kita juga mewujud dalam sikap dan tindakan rendah hati dan sederhana, penuh percaya diri, serta tidak merasa lebih berkuasa dari yang lain, karena menyadari bahwa diri sejati yang lain juga memiliki hal yang sama, hanya mungkin berbeda dalam perwujudan dan perkembangannya.

Dalam diri sejati kita mengalami keberadaan diri yang sesungguhnya, yang tidak takut akan tantangan hidup, yang menghargai setiap orang, dan tidak merasa lebih tinggi daripada yang lain. Oleh karena itu kekuatan diri adalah benar-benar kekuatan yang sesungguhnya yang berdasar pada diri yang sejati, yang menumbuhkan rasa percaya diri. Sedangkan kekuatan yang berdasarkan pada obyek di luar diri sejati kita adalah merupakan kekuatan yang palsu. Hidup kita kemudian lebih berdasar pada kekuatan ego daripada pada diri yang sejati. Kekuatan ego ini hanya berdasar pada pangkat, harta-milik, kekuasaan, singkatnya pada hal-hal di luar diri kita yang menempel pada diri. Ingatlah bahwa jabatan, gelar, uang, harta-benda, pekerjaan akan berakhir kekuatannya, ketika kita tidak memilikinya lagi!

Di lain pihak, kekuatan diri-sejati bersifat permanen sebab berdasarkan pada pengenalan diri yang sejati. Kekuatan diri-sejati selalu menarik orang lain untuk mendekat, juga menarik segala yang kita inginkan kepada kita. Kekuatan diri-sejati menarik orang lain, situasi, dan lingkungan sekitar yang mendukung kerinduan-kerinduan atau niat-niat kita. Diri-sejati kita akan mendapatkan dukungan dari Tuhan dan alam-semesta ciptaan-Nya dengan segala berkatNya. Kekuatan diri-sejati akan menjadikan diri kita bahagia, sejahtera,  terikat dan terhubung secara harmonis dengan Tuhan dan sesama, dan sesama berbahagia bersama kita. Kekuatan berdasar diri yang sejati merupakan kekuatan yang menyatukan, karena merupakan kekuatan kasih sejati.

Potensi-potensi diri hendaknya kita terapkan dalam berbagai kemungkinan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Untuk dapat memanfaatkan secara positif dan menguntungkan hidup kita dari anugerah potensi-potensi yang kita miliki, kita hendaknya memiliki kemampuan untuk mengaksesnya. Cara untuk dapat mengakses potensi-potensi diri adalah dengan membiasakan diri berada dalam keheningan, bermeditasi dan tidak mudah mengadili atau menilai. Meluangkan waktu menikmati alam semesta juga merupakan cara kita untuk menyadari dan menemukan kreativitas, kebebasan dan kebahagiaan.

Berada dalam keheningan berarti kita berkomitmen untuk meluangkan waktu hanya untuk menyadari dan menikmati keberadaan diri kita, hadir dalam diri. Dalam hening merefleksikan diri dan hidup. Menikmati keheningan berarti secara berkala kita menarik diri dari dunia bising kita, kita diam tidak berbicara, kita berada dalam keheningan. Hal ini juga berarti kita secara berkala pada waktu-waktu tertentu tidak menonton televisi, tidak mendengarkan radio, tidak menggunakan smartphone, tdiak membaca buku, singkatnya segala aktivitas yang menyibukkan diri. Jika kita tidak pernah menghadiahkan waktu untuk diri sendiri, untuk mengalami keheningan, segala kebisingan dunia akan memengaruhi pikiran dan hati kita, dan kita menjadi terombang-ambing karena hal-hal itu. Kesibukan dunia akan membelenggu diri kita dan bahkan “merampok” seluruh waktu yang kita miliki, sehingga kita tidak mampu memiliki waktu untuk diri-sendiri.

Setiap hari kita perlu menyisihkan waktu untuk mengalami keheningan. Kita dapat memulai dengan menyisihkan waktu mungkin sekitar 30 menit dan kemudian dapat ditambah sampai paling tidak setiap hari kita meluangkan waktu 2 jam untuk berada dalam keheningan. Satu jam pada pagi hari dan satu jam pada sore hari. Hadir di hadirat Tuhan dan diri sendiri. Tentu saja dalam periode tertentu kita juga membutuhkan waktu untuk hening dalam satu hari penuh, atau tiga hari penuh atau satu minggu, seperti yang kita kenal sebagai hari rekoleksi atau retret.

Apa yang biasanya terjadi kalau kita masuk dalam keheningan diri? Pada awalnya kita akan mengalami perasaan yang tidak tenang, pikiran yang tak teratur. Kita tidak dapat memusatkan perhatian pada diri-sendiri. Kita tidak mampu berkonsentrasi. Kita ingin berbicara dan terdorong memikirkan banyak hal.  Bukanlah hal yang mudah untuk dapat mengalami keheningan. Banyak orang yang tidak tahan pada awalnya, butuh suatu perjuangan untuk mampu berada dalam keheningan.  Pada awalnya kita akan mengalami semacam rasa ketakutan dan seakan dikejar-kejar untuk memikirkan atau berbuat sesuatu. Kita berpikir tidak ada ada artinya berada dalam keheningan diri, hanya membuang waktu-waktu saja. Namun, akhirnya dengan ketekunan dan kesetiaan dalam melatih diri untuk mengalami keheningan, akhirnya akan mampu juga untuk mengalami keheningan. Keheningan menemukan keindahannya. Tidak ada lagi perasaan takut, tidak ada lagi kembara pikiran-pikiran yang tidak teratur. Kita mengalami ketenangan, kedamaian dalam keheningan.

Bermeditasi setiap hari juga sangat baik bagi kita. Paling tidak kita hendaknya melakukan meditasi 30 menit pada pagi hari dan 30 menit pada sore hari. Dengan kebiasaan bermeditasi kita akan belajar mengalami keheningan dan kesadaran yang sesungguhnya. Dengan ketenangan dan kesadaran ini kita mampu menata pikiran, perasaan, menghimpun kekuatan dan memadukan diri kita yang sejati dengan hal-hal lain di luar diri kita secara harmoni. Keheningan merupakan syarat pertama untuk mewujudkan kerinduan-kerinduan kita, sebab keheningan meletakkan hubugan kita dengan anugerah potensi diri yang akan memberikan tuntunan detail tentang apa yang dapat kita lakukan.

Bayangkan pada saat kita melempar dengan batu pada permukaan kolam dan lihatlah gelombang yang terjadi dari lingkaran kecil ke gelombang melingkar yang semakin membesar! Dan setelah gelombang itu berhenti dan airnya menjadi tenang kembali, lemparlah lagi dengan batu kecil dan akan timbul gelombang lagi. Begitulah ketika kita masuk ke dalam keheningan dan menyampaikan intensi kita. Di dalam keheningan,  intensi kita akan meresap dan bergelombang  di dasar kesadaran diri dan kesadaran alam semesta  yang menghubungkan satu dengan yang lainnya. Namun, jika kita belum pernah mengalami keheningan dalam kesadaran, kalau pikiran kita mengembara dan bergelombang terus-menerus, kita tidak akan mampu menemukan gerak kesadaran diri, kita tidak mampu merasakan gerak intensi dalam diri yang terhubung dengan alam semesta. Di dalam Kitab Suci Tuhan bersabda, “Diam dan tenanglah , ketahuilah Aku ini Tuhan.” Pengalaman ini hanya dapat terpenuhi dalam bermeditasi, dalam keheningan, dalam relasi yang intim dengan Tuhan.

Cara lain untuk mengenali potensi-potensi diri adalah dengan mempraktikkan sikap tidak mudah mengadili atau menilai. Mengadili adalah sikap yang menilai sesuatu sebagai benar atau salah, baik atau buruk. Bila kita selalu menilai, mengelompok-kelompokan, memberikan label, menganalisa, kita akan membuat banyak kekacauan “gelombang” di dalam diri kita, terutama dalam berdialog dengan diri kita sendiri. Kekacauan gelombang ini akan mengacaukan dan menghambat dialog kita dengan potensi-potensi diri kita. Kita merasakan adanya “gap” di antara pikiran-pikiran kita sendiri.

Yang perlu kita lakukan setiap hari dan juga dalam doa kita di pagi hari adalah, “Tuhan, anugerahilah kami kemampuan untuk tidak mengadili apapun dan siapapun hari ini.” Tidak bersikap mudah mengadili menciptakan ketenangan dalam pikiran kita. Hal ini merupakan gagasan yang baik, oleh karena itu, untuk memulai hari-hari kita, mulailah dengan niat untuk tidak mengadili apapun dan siapapun. Dan setiap kali tergoda untuk mengadili, ingatkanlah diri-sendiri untuk tidak mengadili apapun dan siapapun. Melalui keheningan, melalui meditasi, dan melalui sikap tidak mengadili, kita akan menemukan potensi-potensi diri kita.

Hal yang perlu kita lakukan untuk semakin mengenali potensi-potensi diri adalah sering meluangkan waktu untuk “menikmati” dan “menghubungkan” diri dengan alam semesta. Bersatu dan berhubungan dengan alam semesta, kita akan merasakan kekuatan universal, kekuatan dari yang Ilahi. Kesadaran keberadaan diri di antara alam semesta dan segala ciptaan akan menjadikan kita menyadari dan mensyukuri potensi-potensi diri. Kita akan bersentuhan dengan kedalaman diri yang sejati. Diri sejati yang melebihi ego kita. Jati diri yang merdeka, yang tidak mengalami ketakutan dan kekhawatiran, yang tidak takut akan segala tantangan dan kritik. Diri yang tidak menguasai dan dikuasai orang lain. Diri yang memiliki rasa percaya diri yang sehat. Diri yang unik dan penuh misteri.

Menemukan diri yang sejati juga akan memberikan kepada diri kita cermin segala relasi kita dengan Tuhan, sesama dan alam semesta, karena semua relasi yang kita bangun pada hakikatnya merupakan gambaran relasi kita dengan diri sendiri. Misalnya, jika kita merasa bersalah, takut atau tidak merasa aman tentang uang, keberhasilan, atau sesuatu yang lain, hal ini merupakan cerminan dari perasaan bersalah, ketakutan dan ketidaknyamanan sebagai aspek mendasar dari kepribadian kita. Tapi perlu diingat bahwa tidak ada harta benda, uang atau kesuksesan yang dapat menyelesaikan masalah mendasar kepribadian kita. Hanya relasi yang intim dengan diri sejati yang dapat menyembuhkan masalah keberadaan diri kita yang sejati. Dan ketika kita sungguh memahami dan hidup berdasarkan diri kita yang sejati, ketika kita sungguh mengerti siapakan diri kita yang sebenarnya, kita tidak akan pernah merasa cemas, takut dan tidak aman dengan uang, harta benda, posisi, dan lain sebagainya, karena kita tahu diri kita yang sehat dan sejati tidak terikat pada hal-hal itu. Anugerah potensi diri adalah kekuatan mendasar di dalam diri kita, berada di dalam diri dan bukan di luar diri kita.

Semakin kita mampu memahami dan masuk dalam diri sejati kita, kita secara spontan akan menerima pikran-pikiran yang kreatif, sebab di dalam diri kita yang sejati terdapat sumber kreativitas dan pengetahuan murni untuk menciptakan dan menemukan. Seorang filsuf pernah mengatakan, “Kamu tidak perlu meninggalkan ruangmu, tetaplah duduk dan mendengarkan. Bahkan kamu tidak perlu mendengarkan, tunggu saja. Bahkan tidak perlu menunggu, jadilah tenang, hening dan diam. Alam semesta akan memberikan kepadamu segala kemungkinan yang kita perlukan”. Tidak ada pilihan lain, yang datang persis yang kita butuhkan untuk mewujudkan kerinduan kita.

Semakin kita berada dalam satu gelombang dengan sejatinya alam semesta, semakin kita memiliki pemikiran kreatif dan kemampuan mencipta yang didukung oleh kekuatan alam semesta. Tetapi pertama-tama kita harus lepas bebas dari segala kelana pemikiran liar dan menjadi hening, tenang. Dalam keheningan diri kita akan menarik semua daya yang ada di luar diri kita, dan kekeuatan Ilahi juga mudah untuk meresapinya. Perpaduan antara keheningan dan ketenangan diri dengan daya gerak untuk mencipta secara kreatif. Ada keseimbangan ataran ketenangan diri dengan gerak kreatif dan mencipta sesuai dengan kehendak kita yang telah diubah menjadi kehendak Ilahi dan alam semesta. Dengan demikian kita juga menjadi tidak tergantung dan lekat pada situasi, lingkungan, orang-orang dan segala sesuatu yang berada di sekitar kita.

Keheningan sebenarnya merupakan potensi untuk suatu kreativitas; gerak juga merupakan kreativitas untuk suatu ekspresi tertentu. Sedangkan kesatuan atau kombinasi antara gerak dan keheningan atau diam akan memampukan kita untuk memiliki kreativitas ke segala arah, kemana saja kekuatan perhatian kita tujukan. Kemanapun kita berada ditengah-tengah gerak dan kegiatan, jangan lupa selalu memgutamakan juga keheningan. Dengan demikian kekacauan di sekitar kita tidak akan menguasai diri kita, karena kita tetap mampu menjalin hubungan dengan sumber kreativitas yaitu anugerah potensi-potensi asali  yang kita miliki.

“Tak seorang pun di dunia ini yang sempurna dan suci. Jika kita menyingkirkan seseorang karena kesalahan kecilnya, kita akan selalu kesendirian. Oleh karena itu kurangilah sikap mengadili dan tambahkanlah cintakasih kita.”

 

“Hari-hari, jam, dan menit yang telah kita lalui tidak akan datang kembali sepanjang hidup kita. Maka hindarilah berkelahi dan marah-marah kepada orang lain, tetapi bericara, bersikap dan bertindaklah kasih kepada sesama.”

 

“Dalam pikiran yang hening dan hati yang damai, serta jiwa yang tentram, saya menemukan jawaban-jawaban tentang sejatinya hidup.”

 

 

“Salah satu penemuan terpenting pada diri manusia adalah ketika ia mampu menemukan potensi dirinya yang dapat ia tumbuhkembangkan menjadi sebuah potensi unggulan dalam mencapai target sukses yang akan dicapai dalam kehidupan. Maka tugas penting setiap pribadi adalah menggali, mengenali dan mengembangkan potensi dirinya yang telah Allah berikan, selain merupakan tanda syukur nikmat atas pemberian-Nya, juga merupakan syarat mutlak yang penting utk dilakukan bagi seseorang yang ingin meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidupnya...”

 

Hebatnya Potensi Diri

Potensi diri yang merupakan anugerah Tuhan sangatlah dahsyat kalau dapat diwujudnyatakan dalam kehidupan. Anugerah potensi diri yang diwujudnyatakan akan membantu kita dalam berproses menggapai tujuan hidup sejati dalam kebahagiaan.

Karena kemampuan potensi diri dan usaha untuk mewujudkannya dalam realitas hidup, banyak hal-hal dahsyat yang terjadi yang sebelumnya mungkin hanya merupakan mimpi-mimpi atau imajinasi belaka. Yang dibutuhkan adalah usaha untuk mengenali potensi-potensi diri kita, mengembangkan mereka dan tidak pernah berputus asa sampai yang kita usahakan berhasil dan menyerah pada kehendak yang Ilahi.

 

Penerapan:

 

Untuk dapat menerapkan prinsip anugerah potensi-potensi asali, kita hendaknya berkomitmen untuk melakukan hal-hal berikut:

1)   Saya akan selalu bersentuhan dengan anugerah potensi-potensi asali saya dengan menyediakan waktu untuk hening setiap hari, hanya berada saja, tanpa aktivitas apapun. Saya akan bermeditasi paling tidak dua kali sehari, 30 menit pada waktu pagi hari dan 30 menit pada waktu sore hari.

2)   Saya akan meluangkan waktu untuk menjalin relasi dengan alam semesta dan menyaksikan serta menikmati betapa indah dan cerdasnya setiap kehidupan di alam semesta ini. Saya akan duduk atau berdiri dengan tenang untuk mengamati dan menikmati matahari yang sedang tenggelam di ufuk barat, mendengarkan deru ombak lautan, atau gemericik bunyi air, atau menikmati keindahan alam dan mencium baru harum bunga-bunga. Dalam pundak keheningan diriku, dan dengan menyatu dengan alam semesta, saya akan menikmati kehidupan, anugerah potensi-potensi asali diri dan kreativitas yang tak terbatas.

3)   Saya akan berlatih untuk tidak mengadili atau menilai. Saya akan selalu memulai hari-hari saya untuk tidak menilai atau mengadili apapun dan siapapun. Dan saya akan selalu mengingatnya sepanjang hari sampai saat tidur menjelang.

 








^:^ : IP 34.204.169.76 : 3 ms   
BROTHERS FIC
 © 2019  http://brothers-fic.org//