GENERAL COUNCIL F.I.C. - Prins Bisschopsingel 22, 6211 JX Maastricht, The Netherlands  Phone: *31 (0) 43 3508373
Saturday, October 21 2017  - 3 User Online  
HOMEGUESTBOOKCONTACT USFORUM 



26.04.2017 00:32:05 952x read.
INDONESIA
Menjadi Bruder adalah Anugerah.(Surat Pastoral Pemimpin Umum, Paskah 2017).

Menjadi Bruder adalah Anugerah.

(Konstitusi art. 117).

 

Para bruder dan frater yang terkasih,

Sementara kita masih dalam suasana Paskah  perkenankan saya, atas nama Dewan Pimpinan Umum,  menyampaikan Selamat Paskah 2017. Semoga semangat Paskah tinggal di dalam hati kita dan memperkuat kita  untuk melanjutkan karya penyelamatan dunia yang mencapai  titik puncaknya pada kematian Yesus di kayu salib.

Mungkin para bruder pernah mendengar, bahwa sudah  lama para  religius Bruder menantikan terbitnya dokumen resmi dari Gereja tentang panggilan khusus  sebagai religius Bruder.  Kita berpendapat bahwa  dokumen semacam itu  akan sangat bernilai, bukan hanya bagi kita di kalangan para Bruder sendiri, melainkan juga bagi seluruh Gereja.  Dokumen semacam itu juga sekaligus merupakan pengakuan Gereja  akan panggilan unik sebagai religius Bruder.  Kenyataan menunjukkan bahwa banyak orang tidak mengerti status panggilan ini.  Tidak bisa dimungkiri bahwa  panggilan religius awam, khususnya untuk kaum pria,  memang kurang dimengerti oleh umat pada umumnya, bahkan juga  oleh hirarki.  Panggilan Bruder dalam banyak kasus sering dianggap sebagai panggilan yang tidak jelas, atau panggilan setengah-setengah, setengah imam dan setengah awam, panggilan yang tidak lengkap, dst. Menyikapi hal itu para Bruder sendiri kadang malah sibuk  dengan membela diri dan bukannya  mendalami dan memupuk keyakinan akan panggilan khusus itu.

Setelah cukup lama menunggu, pada akhirnya kita boleh bergembira karena pada tanggal 4 Oktober 2015 Kongregasi Suci untuk Lembaga Hidup Bakti dan  Serikat Karya Kerasulan  telah menerbitkan dokumen resmi tentang panggilan religius Bruder, dengan judul “Identitas dan Perutusan Religius Bruder di Dalam Gereja”.  Lalu apa sebenarnya isi dari dokumen tsb.?

Religius Awam

Konsili Vatikan II, dalam dokumen Perfectae Caritatis,  menyebutkan bahwa “ kaum religius awam, pria maupun wanita, adalah orang-orang yang  terpanggil untuk  hidup  berlandaskan nasihat-nasihat  injili. Pada hakikatnya cara hidup ini sudah lengkap dan utuh. Konsili Suci  sangat menghargai panggilan hidup ini  karena berkat jasa orang-orang inilah tugas pastoral Gereja menjadi sangat efektif dalam hal pendidikan kaum muda, perawatan orang-orang sakit, dan pelayanan-pelayanan lainnya” (art. 10a).  Di samping itu kita juga bisa menemukan dalam  Lumen Gentium, bahwa “ Status kehidupan ini memiliki tempatnya tersendiri  dalam struktur hirarki Gerejawi. Status panggilan hidup ini bukanlah sejenis jalan tengah  antara panggilan imam dan kaum awam.  Panggilan ini  harus dipandang sebagai  panggilan hidup  yang khusus bagi umat Kristiani, yang memungkinkan mereka bisa menikmati anugerah istimewa di dalam Gereja, dan dengan cara masing-masing memberi sumbangan pada misi penyelamatan dari Gereja (art. 43).

“Bruder” adalah sebutan yang sejak awal diberikan kepada kaum religius pria di lingkungan Gereja Katolik. Meskipun sebutan ini bukan semata-mata milik kaum religius pria, namun di lingkungan Gereja sebutan ini memang merupakan sebutan khas bagi religius pria yang bukan imam. Sebutan itu juga mengingatkan kita akan kata-kata Yesus kepada para pengikut-Nya: ”Janganlah kamu disebut Rabi, karena hanya satu Rabimu; dan kamu semua adalah  saudara (Bruder)” (Mt. 23:8). Hal itu dikatakatan oleh Yesus dalam hubungannya dengan orang-orang munafik yang menggunakan agama untuk memperoleh keuntungan pribadi dan penghormatan dari orang lain. Sebutan Bruder menunjuk pada martabat dan kesamaan hakiki bagi semua orang yang beriman.  Kita para Bruder adalah anak-anak dari Bapa surgawi yang sama. Kita bersama-sama dipanggil untuk membangun persaudaraan universal dalam Kristus yang merupakan Anak sulung dari semua saudaranya (cf. Rom. 8:29). 

Identitas Religius Bruder

Dalam dokumen ditegaskan  bahwa asal mula panggilan religius Bruder adalah pengalaman mendalam akan kasih Tuhan. “Kita mengalami kasih Allah, dan karenanya kita percaya” (cf. 1 Joh 4:16).  Pernyataan ini pada dasarnya sama dengan pesan Kapitel Umum 2012 yang berjudul : “Pengalaman akan Allah merupakan landasan hidup kita sebagai religius.” Selama Kapitel Umum 2012 kita memperbarui kesadaran kita, bahwa  sumber utama kebahagiaan kita adalah pengalaman akan panggilan kasih Allah yang tak berkesudahan.  Inilah landasan hidup kita sebagai religius. Oleh karenanya kita perlu terus-menerus  merefleksikan pengalaman akan kasih Allah bagi kita dalam keseharian hidup kita. Dalam pesan Kapitel Umum 2012 ditekankan  bahwa pengalaman  akan kasih Allah perlu diperbarui dan diperdalam  terus-menerus melalui sikap kontemplatif.  Untuk bisa memiliki sikap kontemplatif  kita perlu menyediakan waktu yang teratur untuk menyendiri dan berdiam diri, agar kita bisa bertumbuh dalam kepekaan kita akan kehadiran-Nya.  Persoalannya bagi kita sekarang apakah kita sebagai pribadi dan komunitas bersedia untuk mengatur waktu sedemikian rupa, sehingga  kita makin peka akan kehadiran Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. “Doa menuntut keberanian dan kesetiaan; doa menuntut keteraturan” (Konst. Art.63).

 Menurut dokumen ini inti identitas  dari religius Bruder adalah anugerah persaudaraan yang diungkapkan antara lain  dengan hidup bersama dalam komunitas. Kehidupan komunitas yang otentik merupakan kesaksian akan kesatuan umat manusia; bahwa cinta kasih Tuhan yang ditunjukkan dalam diri Yesus menjadi pemersatu kita. “Supaya mereka semua bersatu, sehingga dunia percaya bahwa Engkaulah yang mengutus aku” (Joh. 17:21). Komunitas bukanlah sekedar tempat tinggal, melainkan tempat untuk mengalami  hidup yang saling mengasihi,  memberi dan menerima kasih dari sesama. Pengalaman saling mengasihi inilah hendaknya menjadi ukuran pokok kehidupan berkomunitas para Bruder, lebih dari soal keberhasilan dalam karya. Dengan demikian kita sungguh-sungguh mengikuti cara hidup umat Kristiani pertama “yang bertekat hidup sehati sejiwa” (Kis. 4:32). Berangkat dari landasan inilah kita kemudian baru mengatur karya kerasulan kita.

Ciri lain yang nampak jelas dari kehidupan para Bruder adalah pada karya kerasulan. Dalam Vita Consecrata  kita dapat membaca bahwa “Religius Bruder melakukan banyak karya pelayanan yang sangat berharga, di dalam maupun di luar komunitas, ambil bagian dalam karya pewartaan Kabar Gembira dan menjadi saksi-saksi Kristus dengan perbuatan nyata. Pelayanan mereka tidak dapat dipisahkan dari karya pelayanan Gereja (art. 60). Dalam dokumen juga sangat ditekankan betapa pentingnya karya para Bruder terutama bagi  mereka yang miskin dan paling membutuhkan (cf. Mt. 25:40) 

Kesimpulan

Berbicara soal hidup bakti selalu merupakan kisah rahmat. Kita harus bersyukur bahwa kita dipanggil menjadi  religius Bruder.  Menjadi religius adalah anugerah bagi kita (Konst. Art. 117). Pertanyaannya adalah: apakah kita memang bersyukur dan bangga akan panggilan kita sebagai Bruder? Bagaimana kita  memupuk panggilan kita dan membuatnya berbuah lebat? Bagi siapakah  kita ini menjadi Bruder? Bagi kita masing-masing, apa artinya menjadi Bruder pada zaman ini? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang perlu  kita renungkan berkaitan dengan terbitnya dokumen baru ini.  Untuk selanjutnya kita masih perlu mendalami dokumen ini, supaya kita makin memahami misteri panggilan kita sebagai Bruder.

Salam dalam kasih persaudaraan,

Juga atas nama Guido, Raphael dan Theo,

 

 

Br. Martinus Handoko

Pemimpin Umum








^:^ : IP 23.20.86.177 : 3 ms   
BROTHERS FIC
 © 2017  http://brothers-fic.org//